Sambang Kampung Dinoyo Tenun

Warga Dinoyo Tenun Surabaya Ubah Image Kumuh Stren Kali Jadi Kampung Warna-Warni

Warga RT 6 RW 3, Kampung Dinoyo Tenun, Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari, Surabaya secara bertahap mulai mengubah image ini.

Warga Dinoyo Tenun Surabaya Ubah Image Kumuh Stren Kali Jadi Kampung Warna-Warni
surya.co.id/habibur rohman
DINOYO TENUN - Aktivitas warga saat sore hari di Kampung Dinoyo Tenun Surabaya, Senin (18/2/2019). Kampung berdekatan dengan Kali Suroboyo ini tidak lagi terlihat kumuh karena warganya aktif menjaga kebersihan dan mengecat rumah mereka warna warni. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Bangunan liar dan gaya hidup membuang sampah sembarangan menjadi hal yang identik dengan wilayah stren kali. Hal ini pula kesan yang sempat melekat pada warga kampung Dinoyo Tenun.

Namun, Warga RT 6 RW 3, Kampung Dinoyo Tenun, Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari, Surabaya secara bertahap mulai mengubah image ini dengan kepedulian mereka pada lingkungan.

Choirul Anam, Ketua RT 6 mengungkapkan pada 2017 warga kampungnya mulai membuka diri bersaing dengan kampung lain dengan mengikuti kompetisi kampung asuh. Mendapat juara membuat warga kampung semakin bersemangat memperbaiki kampungnya.

"Kampung kami terkenal agak kumuh juga karena bantaran kali. Warga ingin rapi dan kami kepikiran mengecat kampung ini. Kami coba ajukan ke pemkot dan cari sponsor,"ujarnya.

Gayungpun bersamput, ternyata keinginan warga mengubah image kampungnya disambut oleh pemkot Surabaya. Bahkan Pemkot menawari konsep kampung warna warni untuk kampungnya.

"Tiap rumah yabg berhadapan langsung dengan sungai ditawari pengecatan. Warna cat tidak boleh seragam, tapi kami boleh memilih dan pada Desember 2018 akhirnya kampung kami di cat,"urainya.

Wargapun sangat antusias dengan pemandangan baru kampungnya yang terlihat lebih segar. Secara bertahap pula Choirul mulai mengajak warganya rutin melakukan kerja bakti tiap dua atau tiga bulan.

"Tanaman di pinggir sungai kami rapikan, diusahakan tiap rumah punya tanaman jadi kesannya sejuk,"urainya.

Meskipun baru di cat pada akhir tahun lalu, menurut Choirul cat di tembok-tembok rumah warga sudah mulai memudar karena cuaca lembab dan hujan.

Untuk itu, warga kampungnya berencana kembali mengecat kampung secara lebih merata. Sebab rumah-rumah yang berada di dalam gang tidak tersentuh cat warna warni.

"Jalanan dan plengsengan sungai juga mulai kami cat secara swadaya. Jadi kampung kami terlihat indah saat dilihat orang di sisi lain sungai,"ujarnya.

Asim (40) warga kampung mengungkapkan cukup antusias melihat kondisi kampung yang semakin berwarna . Hal ini juga membuat warga kampung merasa malu jika harus membuang sampah sembarangan.

"Sudah terlihat kampungnya dijaga dan dibersihkan. Pastinya kami jadi malu kalau merusaknya dengan sembarangan membuang sampah,"urainya.

Ia juga berharap kampung warna warni ini bisa dinikmati semua warga. Dalam artian secepatnya warga kampung bisa menikmati rumahnya sebagai spot foto yang dikreasikan dengan beragam corak gambar.

"Memang masih perlu pengecatan untuk bagian rumah di dalam gang, nanti ya bapak-bapak kalau pulang kerja yabg mengerjakan,"urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved