Single Focus

Potret Ligita Fitrananda Hadiyati Anggap Kebijakan Baru Unair terkait SNMPTN 2019 Rugikan Siswa

Kebijakan Universitas Airlangga yang menerapkan aturan penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN berdasarkan peringkat di sekolah.

Potret Ligita Fitrananda Hadiyati Anggap Kebijakan Baru Unair terkait SNMPTN 2019 Rugikan Siswa
surya.co.id/delya octovie
Ligita Fitrananda Hadiyati 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kebijakan Universitas Airlangga yang menerapkan aturan penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN berdasarkan peringkat di sekolah, mengingatkan kembali Ligita Fitrananda Hadiyati (23) pada masa-masa akhir SMA-nya.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya itu mengatakan, ia merasakan sendiri kerugian dari perubahan peraturan ketika masih menjadi murid SMA Negeri 5 Surabaya.

"Waktu di angkatan saya, itu mau ada pemerataan. Jadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya mengambil satu anak dari tiap sekolah," ujarnya, Minggu (17/2/2019).

Ketika mendengar berita tersebut, ia langsung merasa perjuangannya dan teman-temannya sia-sia.

Penyebabnya, kata Ligita, adalah hampir setiap hari semua murid di sekolahnya 'sikut-sikutan' demi mendapat nilai bagus.

"Kami mungkin tidak bisa merasakan kebebasan seperti anak SMA biasanya. Lalu dengan sekejap peraturan SNMPTN diubah," sahutnya.

Presentase murid yang diterima lewat jalur SNMPTN waktu itu menurut Ligita sangat besar, sehingga kesempatan masuk melalui SBMPTN menjadi sempit.

Alumnus SMP Negeri 6 Surabaya ini mengatakan, tak masalah jika kampus punya kebijakan semacam itu.

"Kalau memang PTN maunya seperti itu, ya tidak apa-apa. Tapi pastikan saja hanya mengambil satu anak dari tiap sekolah. Lalu, presentase SNMPTN dikecilkan, beri kesempatan lebih untuk SBMPTN supaya adil," paparnya.

Menerima mahasiswa dengan melihat ranking memiliki banyak efek negatif menurutnya.

Perempuan yang sempat aktif di paduan suara ini menyebut, peringkat pertama SMA favorit dan non, pasti memiliki kualitas yang berbeda karena standar yang diaplikasikan juga berbeda.

"Nanti kampus yang dirugikan, karena turun standarnya. Dosen juga keteteran mengajarnya," pungkasnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved