Advertorial

Dharma Wanita Pemkot Surabaya dan INFIS Ingin Buat Film Tema Inklusi yang Go International

Dharma Wanita Pemerintah Kota Surabaya dan Independen Film Indonesia (INFIS) akan berkolaborasi membuat kompetisi film yang bisa dikompetisikan.

Dharma Wanita Pemkot Surabaya dan INFIS Ingin Buat Film Tema Inklusi yang Go International
surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
'Pitching Film Inklusi' bersama Dharma Wanita Pemkot Surabaya dan INFIS diikuti oleh 435 peserta, Kamis (14/2/2019). Pitching akan dilaksanakan sampai 15 Februari 2019 di Gedung Wanita Candra Kencana. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Selama beberapa tahun trakhir, Dharma Wanita Pemerintah Kota Surabaya dan Independen Film Indonesia (INFIS) telah berkolaborasi untuk membuat kompetisi film dengan berbagai tema, mulai soal pendidikan, ibu, hingga disleksia.

Untuk tahun ini, keduanya akan kembali menggelar kompetisi film dengan tujuan yang lebih tinggi, yakni mengikutkan film dalam festival nasional maupun internasional.

"Tema kompetisi film yang sekarang adalah inklusi, jadi kami ingin punya produk film asli Surabaya, yang membahas tentang Surabaya sekaligus bisa sebagai promosi ke mana-mana di dalam negeri maupun luar negeri. Bahasnya tentang pendidikan, kota layak anak dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)," tutur Iis, Ketua Dharma Wanita Pemkot Surabaya ketika ditemui dalam acara 'Pitching Film Inklusi' di Gedung Dharma Wanita Kalibokor Surabaya, Kamis (14/2/2019).

Film terbaik akan ditayangkan memperingati Hari Disabilitas Internasional, Walk for Autism, dan International Conference on Special Education UNESA yang diikuti 20 negara.

Pada tema kali ini, Iis mengajak para anggota Dharma Wanita, guru-guru inklusi, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta anggota Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UNESA, sebagai film maker.

Menurutnya, film adalah media audiovisual yang sangat komunikatif dan merupakan gambaran kejadian di dunia nyata.

Karenanya, ia sangat mendukung sosialisasi tentang ABK melalui film, dengan harapan masyarakat bisa memahami apa yang sebenarnya dialami oleh ABK dan mengambil pelajaran berharga.

"Makanya film harus memuat sisi edukasi, publikasi, komunikasi dan juga branding. Branding ini dalam arti ABK memang anak-anak yang terbatas tapi punya kemampuan luar biasa yang orang biasa tidak punya," katanya.

Iis menambahkan, ia ingin film menggali sisi positif ABK karena keterbatasan merupakan sebuah kemungkinan yang bisa dikembangkan potensinya sampai level terbaik.

"Misalnya Adelina, anak 21 tahun yang mengidap cerebral palsy, tapi bisa menciptakan lagu dan menyanyikannya. Dia rencana akan rilis mini album lima lagu. Nah dia bisa seperti itu kan juga campur tangan dari caregiver, keluarga, dan lain-lain. Film ini diharapkan bisa menyemangati main support ABK juga," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved