Citizen Reporter

Rukat Disa, Tradisi Tiap Jumat di Bangkalan Untuk Menebar Harap

Masyarakat Bangkalan memiliki tradisi yang dinamai Rukat Disa. Ritual yang digelar setelah salat Jumat ini digelar untuk memohon berkah.

Rukat Disa, Tradisi Tiap Jumat di Bangkalan Untuk Menebar Harap
citizen reporter/Ade Vika Nanda Yuniwan
Tradisi Rukat Disa di Bangkalan, Madura. 

SURYA.co.id | Berbagai cara dapat ditujukan sebagai wujud harap dan syukur. Rupanya bukan hanya doa saja yang dapat menyalurkan doa, melainkan sebuah tradisi yang juga tak kalah sakral dari doa dan memiliki nilai filosofis begitu kental. 

Itu seperti yang dilakukan warga Desa Banyubesi, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jumat (4/1/2019) setelah salat Jumat.

Mereka memanjatkan harapan dalam tradisi desa setempat bernama Rukat Disa yang kalau di Jawa berarti ruwat desa.

Rukat Disa dalam bahasa Madura merupakan sebuah tradisi yang selalu dilakukan masyarakat Desa Banyubesi setiap menjelang musim panen. Rukat Disa dilakukan sebagai bentuk doa agar tanaman-tanaman warga dapat dijauhkan dari serangan hama. Selain itu, Rukat Disa juga dilakukan sebagai rasa syukur atas panen yang melimpah saat memanen.

Mula-mula sebelum melaksanakan tradisi Rukat Disa, masyarakat membuat seserahan berupa ulat-ulat yaitu nama lain dari cenil tiga warna, yaitu merah, kuning, dan hijau.

Ulat-ulat dikemas menggunakan daun jati atau daun pisang. Ulat-ulat dibuat sebagai simbol hama ulat. Selain ulat-ulat, warga juga menyiapkan lontong dan nasi tumpang tiga warna sebagai seserahan lainnya.

Pukul 12.30, semua warga Desa Banyubesi berkumpul di perempatan utama desa untuk melaksanakan Rukat Disa. Para wanita berduyun-duyun mengumpulkan seserahan lontong dan nasi tumpang di tengah jalan perempatan.

Setelah semua seserahan warga terkumpul, seserahan didoakan oleh tokoh masyarakat setempat.

Doa selesai dibacakan. Para warga berkerumun dan saling berebut seserahan Rukat Disa, sementara yang tidak memukul-mukul para perebut seserahan menggunakan sejumput daun. Prosesi itu sebagai penanda agar tanaman mereka dapat tumbuh subur dan berkembang dengan sehat.

Acara berebut seserahan usai. Saatnya para pria desa berkumpul di langgar (musala) untuk mendoakan keseluruhan acara dalam Rukat Disa agar benar-benar dikabulkan Tuhan.

Setelah semua rangkaian acara usai, para warga desa akan menyebarkan bungkusan ulat-ulat ke sawah atau lahan mereka.

Hal itu menjadi penanda bahwa ulat-ulat yang dikenal sebagai hama telah mereka usir dalam acara Rukat Disa, sehingga hama ulat tidak akan mengganggu hasil panen.

“Rukat Disa dilakukan setiap menjelang panen, agar warga tanaman warga Banyubesi terhindar dari serangan hama. Tradisi ini juga menjadi bentuk harapan warga desa, agar tanaman dapat tumbuh subur,” ucap Yulisa Zainab, istri Kepala Desa Banyubesi.

Penulis : Ade Vika Nanda Yuniwan, Mahasiswa Kelompok KKN 48, Universitas Trunojoyo Madura

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved