Citizen Reporter

Bermodal Barang Bekas, Permata Jingga (PJ) Global School Malang Sabet Juara Tingkat Asia Pasifik

ermodalkan prototipe dari bahan bekas, delapan siswa Permata Jingga (PJ) Global School Malang, menjadi juara 2 dalam acara Global Youth Summit

Bermodal Barang Bekas, Permata Jingga (PJ) Global School Malang Sabet Juara Tingkat Asia Pasifik
citizen reporter/Yosef Infan Chandra
Para pelajar PJ Global School berhasil meraih juara 2 tingkat Asia Pasifik di ajang Global Youth Summit yang diadakan di Yogyakarta, 17-19 Januari 2019. 

SURYA.co.id | Bermodalkan prototipe dari bahan bekas, delapan siswa Permata Jingga (PJ) Global School Malang, menjadi juara dua  dalam acara Global Youth Summit yang diadakan di Yogyakarta, 17-19 Januari 2019. 

Mereka adalah Shafira Putri Asmaradani (kelas XI), Gigih Satriya Baswara (kelas VIII), Jennifer Gita Freya (kelas VIII), Angelie Aurellia Shalum (kelas VIII), Rico Chan dan Ichiro Shibata (VIII), Arjuna Veetaraq (kelas VIII), dan Korakrit Boonsombat (kelas VII).

Mereka dengan cerdas membawakan karya tentang The Water Purification Station in Karangsono Village. Karya itu merupakan studi lapangan yang dilakukan di Desa Karangsono, Pasuruan mengenai proses pemurnian air yang dinilai alami dan ekonomis untuk warga.

Global Youth Summit merupakan perlombaan yang dihadiri 180 peserta dari 7 negara. Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah bekerja sama dengan sekolah Taruna Nusantara, Magelang.

Pada hari pertama peserta diajak untuk bermain angklung. Seluruh peserta dalam dan luar negeri antusisas mengikuti kegiatan itu. Di hari kedua, terdapat upacara pembukaan dengan parade masing-masing delegasi dan penampilan marching band dari SMA Taruna Nusantara.

Setelah itu acara sangat padat karena terdapat beberapa seminar bertemakan lingkungan dan seminar tentang cara berpresentasi dengan benar. Peserta diajak melakukan aksi memanfaatkan sampah dari kardus makan siang mereka untuk membuat maket rumah kaca serta berkunjung ke rumah kaca pada hari ketiga.

Babak penyisihan dan grand final dilaksanakan pada hari terakhir. Pada kesempatan itu, perwakilan PJ Global School membawa prototipe yang terbuat dari busa sandal, sedotan, dan kardus bekas yang mempresentasikan stasiun pemurnian air.

Pada kompetesi tahun ini ada hal yang membedakan, yaitu dari segi penilaian. Penilaian juara tidak hanya dinilai dari dewan juri melainkan juga dari peserta lain. Dalam tahap seleksi pertama peserta diminta untuk menyampaikan karya mereka hanya dalam waktu satu menit.

“Kami sangat tertantang dengan sistem penilaian itu, karena harus bisa menampilkan key point dari karya kami dengan waktu minimal namun presentasi maksimal,” ujar Safira, Ketua Kelompok PJ Global School.

Ia mengakui, awalnya sangat sulit menceritakan karya itu dalam waktu satu menit. Mereka terus mencari cara hingga dini hari dan terus berlatih presentasi agar ide dan waktunya tepat.

“Alhamdulillah, hasilnya memuaskan dan mengharumkan nama Indonesia sebagai tuan rumah,” tambahnya.

PJ Global School merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berhasil menyabet gelar juara dalam ajang itu.

Penulis : Yosef Infan Chandra, Guru Matematika SPK PJ Global Malang

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved