Citizen Reporter

Belajar Dari Tatanan Lama Jawa 1740-1812

'Menelisik Tatanan Lama Jawa 1740-1812', demikianlah tema seminar yang diadakan oleh Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (25/1/2019)

Belajar Dari Tatanan Lama Jawa 1740-1812
ist
Ilustrasi 

SURYA.co.id | 'Menelisik Tatanan Lama Jawa 1740-1812', demikianlah tema seminar yang diadakan oleh Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (25/1/2019).

Bertempat di Aula Ki Hajar Dewantara FIS UM, Lili Suratminto, Linguis Historis Universitas Indonesia didapuk sebagai pembicara pertama.

Ia menjelaskan di awal seminar, tanpa Pulau Jawa, Belanda tidak akan menjadi kerajaan seperti sekarang. Kurang lebih demikian yang disampaikan sebagai gambaran umum tentang Jawa yang begitu penting dalam perjalanan sejarah kerajaan Belanda.

“Setelah Perang Jawa 1825-1830, emas hijau dari Jawa menjadi penopang perekonomian Belanda,” tegas Lili.

Emas hijau merujuk pada hasil bumi yang sedang menjadi primadona di masa itu, antara lain tebu dan kopi.

Prosesnya menggunakan kebijakan pemerintah kolonial yang banyak dikenal dengan sistem tanam paksa.

Dari gambaran umum itu Lili mengajak melihat sebuah potret kelam penjajahan. Itu melibatkan konflik politik keluarga antara AdriaenValckenier selaku Gubernur Jenderal dan Baron van Imhoff selaku ketua dewan yang sebenarnya masih sepupu.

Konflik itu melibatkan upaya dewan di bawah kendali Baron van Imhoff untuk menjatuhkan gubernur jenderal. Ia mengeluarkan perintah yang memicu huru-hara dan pembantaian etnis Cina di Batavia (Jakarta sekarang) pada 9 Oktober 1740 sehingga Gubernur Jenderal Valckenier diadili atas peristiwa itu.

Baron van Imhoff akhirnya bisa menjadi gubernur jenderal berkat peristiwa yang tercatat menelan korban 10.000 jiwa etnis Cina di Batavia dan sekitarnya.

Daya Negeri Wijaya, dosen Sejarah UM dan Ketua PPI Portugal 2018-2019 sebagai pembicara kedua menambahkan perihal posisi etnis Cina di masa penjajahan Inggris yang tak kalah dilematis.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved