Berita Malang Raya

Khofifah Indar Parawansa Imbau Fadli Zon Meminta Maaf ke KH Maimun Zubair

Gubernur Jawa Timur terpilih 2019-2024, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan Fadli Zon untuk meminta maaf kepada KH Maimun Zubair atau Mbah Moen

Khofifah Indar Parawansa Imbau Fadli Zon Meminta Maaf ke KH Maimun Zubair
suryamalang.tribunnews.com/rifky edgar
Khofifah Indar Parawansa mengingatkan Fadli Zon untuk meminta maaf kepada KH Maimun Zubair atau Mbah Moen. 

SURYA.co.id | MALANG - Gubernur Jawa Timur terpilih 2019-2024, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan Fadli Zon untuk meminta maaf kepada KH Maimun Zubair atau Mbah Moen. 

Hal ini sebagai butut puisi Fadli Zon berjudul 'Doa yang Tertukar' yang dianggap menghina Mbah Moen. 

Pernyataan itu ia sampaikan usai menghadiri acara Istighosah dan Deklarasi Jaringan Kyai-Santri Nasional (JKSN) yang digelar GOR Ken Arok, Kota Malang, Minggu (10/2/2019).

"Bang Fadli Zon ada baiknya segeralah untuk minta maaf ke Mbah Moen. Saya rasa tidak perlu melalui konferensi Pers, sowan akan lebih baik. Mungkin dia khilaf pada saat menulis puisi itu. Saya rasa beliau (Mbah Moen) pasti sudah memaafkan walaupun bang Fadli belum meminta maaf," ucapnya.

Khofifah khawatir, bahwa yang marah atas pernyataan itu bukanlah mbah Moen, melainkan para santri yang banyak.

Ia pun menyebutkan, bahwa Mbah Moen mempunyai jaringan santri yang banyak karena merupakan Kiai sepuh yang ada di Indonesia.

"Jangan melihat Mbah Moen sebagai tokoh partai PPP saja. Mbah Moen dan Pesantren Sarang mempunyai jaringan yang kuat, jaringan pesantrennya tidak hanya di Indonesia, tapi ada di Yaman dan di Mesir yang sangat kuat," ucapnya.

Tak hanya itu, mantan Menteri Sosial itu juga menyebut, di Indonesia kini banyak dihuni oleh para politisi tapi sedikit negarawan.

Dia pun menyayangkan hal tersebut karena sebenarnya negara Indonesia kini membutuhkan seorang negarawan yang mampu berfikir demi kemasalahatan bangsa.

"Memang bangsa kita kini krisis seorang negarawan. Sosok Negarawan itu berpikir masalah kemasalahatan bangsa, kebaikan bersama dan mereduksi kepentingan partai, kepentingan kelompok dan golongan. Kalau belum seperti itu, masih disebut politisi," tandasnya.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved