Berita Trenggalek

Awalnya Disepelekan, Sujarni Merintis Dusun Banyon Menjadi Penghasil Madu Lanceng

Dua tahun lalu, orang-orang menertawakan Sujarni saat menangkap koloni lebah lanceng dan memeliharanya di rumah. Kini semua berubah...

Awalnya Disepelekan, Sujarni Merintis Dusun Banyon Menjadi Penghasil Madu Lanceng
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Madu lanceng dari Trenggalek. 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Dua tahun lalu, orang-orang menertawakan Sujarni (31) saat mulai menangkap koloni lanceng dan memeliharanya di rumah. Namun warga Dusun Banyon, Desa Widoro, Kecamatan Gandusari ini terus melanjutkan hobinya ini.

Berkat kegigihan ayah dua anak ini, kini banyak warga Dusun Banyon yang ikut-ikutan memelihara lanceng. Sebab lebah kecil seperti lalat dan tanpa sengat ini ternyata menghasilkan madu yang jauh lebih mahal, dibanding madu lebah pada umumnya. Memelihara lanceng bisa menjadi sampingan yang sangat menguntungkan.

Sujarni berkisah, dua tahun lalu dirinya ikut gotong royong membuat kandang kambing milik tetangga. Saat itu ia menemukan satu ruas bambu yang menjadi sarang lanceng. Madu di dalam ruas bambu itu banyak.

“Sejak itu saya berpikir, kalau bisa memelihara banyak lanceng pasti bisa menghasilkan banyak madu. Niat awalnya hanya dikonsumsi sendiri, karena orang bilang khasiatnya banyak,” ujar Sujari saat ditemui di rumahnya.

Sejak saat itu Sujari aktif mencari sarang lanceng di rumah-rumah warga. Bahkan sering kali Sujarni harus memecahkan batu tempat lanceng bersarang. Usaha keras Jarni berhasil menghasilkan 30 sarang lanceng.

Sarang-sarang itu dipindahkan dalam kotak kayu. Namun saat koloni lanceng ini berkembang, Jarni kesulitan memisahkannya. Banyak koloni yang mati atau bubar karena mereka tidak cocok.

“Misalnya kalau kita menukar letak kotak sarangnya, maka lanceng-lenceng ini akan berkelahi. Hal-hal seperti itu yang awalnya saya tidak tahu,” tutur Sujarni.

Beberapa bulan awal Sujarni mempelajari perilaku lanceng. Termasuk cara memisahkan koloni ke dalam kotak yang baru. Setelah mencoba secara otodidak, Sujarni berhasil mengembangkan koloni lanceng.

Saat ini ia mempunyai 150 kotak di belakang rumahnya. Sedangkan 150 kotak lainnya ditaruh di rumah orang tuanya, masih di desa yang sama. Mulailah lanceng-lanceng peliharaan Sujarni menghasilkan madu.

“Awalnya orang yang datang hanya minta, saya kasih gratis. Terus karena banyak yang minta, mulai dibayar seiklasnya,” ungkap Sujarni.

Halaman
12
Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved