Citizen Reporter

Inovasi Guru Seni Budaya Desa Papar Kediri, Pewarna Alami Berbahan Kulit Manggis dan Daun Bawang

Perempuan yang kini mengajar di SMPN 1 Papar itu menerangkan berbagai bahan pewarna dihaslkan dari ektrak bahan-bahan alam.

Inovasi Guru Seni Budaya Desa Papar Kediri, Pewarna Alami Berbahan Kulit Manggis dan Daun Bawang
foto: istimewa
Pewarna alami berbahan kulit manggis dan daun bawang kreasi guru SMPN 1 Papar Kediri. 

KAIN BATIK batik banyak yang menggunakan bahan kimia yang tidak ramah lingkungan. Ardini Suminarsih, guru Seni Budaya asal Desa/Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini cukup kreatif menggunakan pewarna dari alam sebagai bahan pewarna batiknya.

Tidak tanggung-tanggung, bahan tak lazim sebagai pewarna pun digunakan, mulai dari kulit manggis hingga daun bawang merah. Tentunya itu cukup ramah dengan alam karena minim kimia.

Itu terlihat kala mengunjungi Butik Batik Hardini, Minggu (20/1/2019). Terlihat berbagai kain batik aneka corak dan warna menghiasi etalase butik. Beberapa batik ada yang belum kering pengerjaannya.

“Memang benar, untuk pewarna batik kami menggunakan bahan-bahan dari alam,” terang Ardini Suminarsih pemilik butik.

Perempuan yang kini mengajar di SMPN 1 Papar itu menerangkan berbagai bahan pewarna dihaslkan dari ektrak bahan-bahan alam. Pewarna batik dengan warna ungu, batik alam ini menggunakan kulit manggis sebagai bahan dasarnya.

Begitu juga pewarna batik untuk warna kuning kehijau-hijauan, bahannya pun dari alam menggunakan daun mangga. Tak hanya itu, sampai daun bawang merahpun juga dimanfaatkan sebagai pewarna cokelat pun dihasilkan.

“Walaupun bahannya dari alam, tetapi tetap dijamin awet,” ujar Ardini.

Tak sulit untuk mencari bahan baku untuk pewarna alam itu karena memang bahan-bahannya cukup gampang dicari di sekitar rumahnya. Ketika dia ingin mencari pewarna cokelat, dia hanya akan berjalan-jalan ke tetangganya para petani dan meminta daun bawang yang biasa dibuang.

“Rata-rata pewarna alami ini saya menggunakan bahan-bahan yang awalnya dibuang atau tidak terpakai,” ungkapnya.

Selain bahan pewarnanya yang berbeda dengan batik-batik lain. Ada beberapa teknik cara pembuatan dan pewarnaan batik yang berbeda dengan yang lainnya. Ia menggunakan canting, dalam pewarnaannya juga menggunakan kuas sehingga proses pengerjaannya seperti melukis di atas kanvas.

“Karena basic saya di lukis, saya gabungkan teknik membatik dengan melukis ini,” terang guru kelahiran 21 Mei 1972 itu.

Nadia Putri, salah satu pengunjung butik Hardini ini mengaku batik di situ cukup unik. Selain bahannya berbeda, corak-coraknya pun tetap indah dan penuh makna sehingga dia jauh-jauh datang dari Surabaya ke Kediri hanya untuk membeli batik pewarna alam itu.

“Puas dengan corak batiknya, apalagi bahannya dari daun hingga kulit buah. Inilah daya tariknya,” ungkapnya.

Moh Fikri Zulfikar
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Pascasarjana Universitas Negeri Malang
fikrizulfikar982@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved