Rumah Politik Jatim

Jokowi: Pebisnis Masih Harus Belajar untuk Jadi Pemimpin Negara, Jadi, Pilih yang Berpengalaman!

Menurut calon presiden yang kini masih menjabat sebagai Presiden tersebut, mengelola negara bukanlah pekerjaan mudah

Jokowi: Pebisnis Masih Harus Belajar untuk Jadi Pemimpin Negara, Jadi, Pilih yang Berpengalaman!
SURYA.co.id/Bobby Constantine Koloway
Joko Widodo memberikan sambutan saat bertemu dengan relawan yang merupakan alumni dari sejumlah perguruan tinggi, Sabtu (2/2/2019) di jalan Pahlawan, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo, bertemu dengan relawan yang merupakan alumni dari sejumlah perguruan tinggi, Sabtu (2/2/2019) di jalan Pahlawan, Surabaya. Di awal sambutannya, Jokowi menekankan pentingnya memilih calon pemimpin yang berpengalaman.

Menurut calon presiden yang kini masih menjabat sebagai Presiden tersebut, mengelola negara bukanlah pekerjaan mudah.

Jokowi Temui Ribuan Alumni Perguruan Tinggi di Surabaya, Dapat Hadiah Jaket dan Sapaan Cak Jokowi

”Sebab, kita memiliki perbedaan. Suku, bahasa, agama. Kita tahu kita punya 714 suku. Lebih dari 1100 bahasa daerah,” kata Jokowi pada awal sambutannya, Sabtu (2/2/2019).

”Sekali lagi, mengelola negara sebesar Indonesia itu tidak mudah. Saya pernah dari Banda Aceh hingga Wamena menghabiskan waktu 9 jam 15 menit. Setara dengan London, Inggris sampai di Istambul, Turki. Harus melewati tujuh negara terlebih dahulu,” kata Jokowi.

Oleh karenanya, untuk memimpin negara sebesar itu, harus membutuhkan pengalaman.

”Artinya, negara ini negara besar. Sehingga untuk mengelolanya tidak mudah. Memerlukan pengalaman. Perlu pengalaman untuk memimpin negara Indonesia. Pengalaman itu perlu,” ujarnya menegaskan.

Capres yang berpasangan dengan Calon Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin ini pun menceritakan awal kariernya di bidang pemerintahan sebelum terpilih menjadi presiden.

”Saya perlu belajar hampir dua tahun untuk beralih dari dunia bisnis ke pemerintahan. Itu beda semua,” kata pria yang pernah menjadi pengusaha meubel ini.  

Dari pengalaman memimpin di Solo selama dua periode inilah, ia lantas berani untuk bertarung di pemilu DKI Jakarta.

”Saat saya menjadi Walikota Solo saya belajar hampir dua tahun. Di tahun ketiga saya sudah menyesuaikan memimpin kota kecil yang namanya Solo. Baru kemudian meningkat di provinsi (DKI Jakarta dengan menjabat Gubernur). Kami beralih dari yang awalnya jumlah penduduk sekitar 600 ribu (Solo) menjadi 10 juta penduduk (Jakarta),” ceritanya.

”Artinya, kami masuk dari bawah, menengah baru memimpin sebuah negara,” ulasnya kembali.

Dengan bekal pengalaman seorang pemimpin inilah, seorang calon pemimpin laik dipilih.

”Jadi, pengalaman itu menjadi  salah satunya hal penting sebelum kita memilih. Selain juga, hal-hal lainnya,” katanya.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved