Citizen Reporter

Mengenal Raja Airlangga lewat Prasasti Pucangan, Usia 16 Tahun Airlangga Dikirim ke Jawa Dinikahkan

Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raja Airlangga.

Mengenal Raja Airlangga lewat Prasasti Pucangan, Usia 16 Tahun Airlangga Dikirim ke Jawa Dinikahkan
foto: istimewa
Prasasti Pucangan menceritakan kisah Raja Airlangga. Prasasti ini di daerah Gunung Pucangan terletak di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. 

Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raja Airlangga adalah penguasa yang memerintah Jawa pada abad ke-11 Masehi.

Raja yang dianggap sebagai pembaru Jawa itu, telah menerbitkan setidaknya 33 bukti sejarah, yang terdiri dari prasasti batu dan perunggu.

Menurut Fikria Iwa Logika, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga mengatakan, di antara ke-33 bukti sejarah yang ada, Prasasti Pucangan adalah yang terpenting. Prasasti Pucangan.

“Prasasti Pucangan adalah yang paling penting, karena prasasti yang berangka tahun 1037 Masehi itu berisi tentang riwayat hidup Maharaja Airlangga yang paling lengkap,” tutur mahasiswa pegiat arkeologi itu, Kamis (10/1/2019).

Dengan membawa buku karya Nini Susanti berjudul Airlangga Biografi Raja Pembaharu Jawa Abad XI, Logika menambahkan jika dalam Prasasti Pucangan, Raja Airlangga merupakan keturunan Mpu Sindok. Mpu Sindok adalah pendiri Dinasti Isyana yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10 Masehi.

“Walaupun bukan keturunan langsung, anak perempuan Mpu Sindok yaitu Sri Isyanatunggawijaya yang menikah dengan Srilokapala, memiliki anak bernama Sri Makutangwangsawardhana dan memiliki anak lagi Mahendradatta. Mahendradatta kemudian menikah dengan raja Udayana dari Bali dan di karuniai tiga anak laki laki, salah satunya Airlangga,” terangnya.

Pada usia 16 tahun, Raja Airlangga dikirim ke Jawa untuk dinikahkan dengan putri Raja Dharmawangsa Teguh, bernama Galuh Sekar.

Di bagian Prasasti Pucangan yang berbahasa Sansekerta menyebutkan, tidak lama setelah perayaan pernikahan Airlangga dengan Galuh Sekar, ibu kota kerajaan diserang oleh Wurawari. Istana hancur dan Dharmawangsa Teguh meninggal dalam peperangan.

“Peristiwa itu dinamai Mahapralaya. Semua keturunan kerajaan habis pada malam itu, kecuali Airlangga dan pengikutnya, Narottama yang berhasil menyelamatkan diri,” ujarnya.

Setelah peristiwa itu, Raja Airlangga singgah dan bertapa di daerah Pucangan, mirip dengan nama Gunung Pucangan yang kini terletak di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang.

Dari keterangan yang ada, Raja Airlangga tidak hanya bertapa, namun turut membuat Prasasti Pucangan. Ia menuliskan kembali kisah pengembaraan beserta seluk-beluk silsilahnya.

“Pucangan adalah salah satu bukti Airlangga mendirikan kerajaan dengan menuliskan ibu kotanya di watang mas yang sekarang berada di Desa katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang,” pungkasnya.

Fariz Ilham Rosyidi
Redaksi LPM Situs
Universitas Airlangga
farizilhamrosyidi@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved