Citizen Reporter

Pelatihan Penulisan Buku Pendidikan Populer di Bantul Yogyakarta, Ide di Kelas Menjadi Buku

Libur sekolah, bukan berarti libur belajar dan berkarya. Paling tidak, itu berlaku untuk 35 guru di wilayah Kasihan Bantul, Yogyakarta.

Pelatihan Penulisan Buku Pendidikan Populer di Bantul Yogyakarta, Ide di Kelas Menjadi Buku
foto: istimewa
Para peserta Workshop Pelatihan Penulisan Buku Pendidikan Populer bagi Guru Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta saat foto bersama. 

LIBUR  sekolah, bukan berarti libur belajar dan berkarya. Paling tidak, itu berlaku untuk 35 guru di wilayah Kasihan Bantul, Yogyakarta, dan sekitarnya untuk belajar menulis dengan semangat yang luar biasa.

Bertempat di SD Banyuripan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, guru-guru pembelajar itu mengikuti Pelatihan Penulisan Buku Pendidikan Populer dengan tema mengubah special moment di kelas, menjadi buku pendidikan populer, Kamis (20/12/2018).

Narasumber yang konsultan pendidikan dan penulis buku Rockstar Teacher dari Surabaya, Asril Novian

Alif, berhasil membangkitkan semangat dan antusiasme peserta dalam menulis.

Alumnus Indonesia Mengajar angkatan pertama itu menegaskan, terdapat banyak pengalaman dalam proses pembelajaran yang terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Akan lebih berharga apabila setiap guru mampu mengabadikan pengalaman mengajarnya dan menuliskan dalam sebuah cerita. Dengan demikian, niscaya setiap guru mampu menulis buku.

Sebelum praktik menulis dimulai, terlebih dulu peserta diberi pemahaman tentang manfaat menulis. Menulis akan membiasakan orang untuk berpikir kreatif dan berpikir runut.

Dua hal itu tidak bisa dipisahkan dari profesi guru. Ia harus mampu berpikir kreatif untuk menghasilkan strategi yang menarik dan bervariasi. Selain itu, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir runut, sehingga guru mampu menjelaskan materi kepada siswanya dengan mudah, jelas, dan sistematis.

Sesi selanjutnya adalah penjelasan tahapan praktis dalam menulis. Tidak hanya teori, namun peserta diajak langsung mempraktikkaannya. Awalnya ada beberapa guru yang merasa kesulitan mencari ide, namun dengan bimbingan dari narasumber, hal itu bisa diatasi.

Pertama adalah membuat premis. Premis adalah kalimat utama atau garis besar suatu tulisan yang akan dijabarkan menjadi tulisan.

Kedua adalah membuat outline. Itu berfungsi untuk memandu penulis membuat tulisan secara runut. Outline biasanya terdiri atas beberapa kalimat yang dikembangkan dari premis.

Ketiga adalah menulis bebas. Itu dilakukan berpedoman pada outline. Menulislah dengan bebas dan lepas tanpa takut salah.

Tahap terakhir adalah memoles tulisan/editing. Seluruh peserta diajak memcermati kesesuaian tiap kalimat dan keselarasan bahasa. Itu termasuk mempercantik kalimat dengan menghias baik subjek, predikat, objek, maupun keterangan.

“Pelatihan ini sangat bernanfaat, karena memberi pemahaman kepada kami tentang cara menulis dengan benar dan sistematis,” ujar Heni, salah satu peserta pelatihan.

Isyani
Pendidik di SD Banyuripan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
isyani040@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved