Citizen Reporter

Jangan Takut Dikritik, Pesan dari Antologi Puisi Komunitas Literacy Institute Lamongan

Menulis itu butuh passion atau gairah. Orang tak kan bisa melahirkan tulisan tanpa ada gairah untuk merangkai kata.

Jangan Takut Dikritik, Pesan dari Antologi Puisi Komunitas Literacy Institute Lamongan
foto: istimewa
Suasana Antologi Puisi Ini Hari sebuah Masjid Tumbuh di Kepala dan seminar sastra di Aula Cendekia Perpustakaan Umum Lamongan, Kamis (27/12/2018). 

MENULIS  itu butuh passion atau gairah. Orang tak kan bisa melahirkan tulisan tanpa ada gairah untuk merangkai kata.

Itulah garis lurus yang disampaikan oleh penulis yang bergabung dalam komunitas Literacy Institute saat meluncurkan antologi puisi Ini Hari sebuah Masjid Tumbuh di Kepala dan seminar sastra di Aula Cendekia Perpustakaan Umum Lamongan, Kamis (27/12/2018).

Acara yang dihadiri seratus peserta itu sengaja menghadirkan seluruh penulis antologi untuk berbagi proses kreatif bagaimana lahirnya karya-karya mereka.

Selain itu, yang menarik dari acara ini adalah saat mereka, para penulis itu, satu per satu membacakan karyanya di depan peserta yang hadir. Ada banyak cara dan tipe yang mereka paparkan dalam berkarya.

“Suasana itu penting untuk melahirkan sebuah karya,” kata Atafras salah satu penyair perempuan pengisi antologi puisi itu.

Ada juga yang mengatakan, harus membuang ketakutan tulisan dikatakan jelek atau tidak bermutu. Masterpiece selalu dihasilkan oleh seniman setelah ia membuat ribuan karya tak bermutu. Jadi, tetaplah menulis dengan gairah, tambah yang lain.

“Untuk menjadi penulis tentunya harus banyak membaca dan akrab dengan kata-kata. Setiap hari terus dibiasakan menulis menulis dan menulis,” kata Rodli Murtadlo yang diamini Ahmad Zaini. Keduanya adalah penulis prosa yang juga turut serta mengisi antologi puisi

“Meski berada di Lamongan, Literacy Institute juga menampung penulis di luar Lamongan untuk berpartisipasi dalam antologi puisi ini,” jelas Syaiful Anam Assyaibani, pendiri Literacy Institute.

“Di antologi ini kita juga menampung penulis luar Lamongan misalnya, Rony Varella dari Bojonegoro, Lugas dari Solo, bahkan ada yang dari Sumatra yaitu Yuniati. Beberapa dari Tuban di antaranya: Titik Istiana, Nur Sholihah, dan Nafi Oedin,” tambahnya.

Dibuka oleh Plt Kepala Dinas Perpustakaan, Mulyono, acara berlangsung meriah dan santai karena dilaksanakan dengan cara lesehan. Mulyono mengaku senang bisa mewadahi komunitas literasi ini untuk beracara di perpustakaan,

“Kami juga berharap Literacy Institute suatu saat bisa bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Lamongan dalam hal penerbitan buku-buku yang ditulis oleh penulis penulis Lamongan atau yang bertema tentang Lamongan,” ujar Ulwiyatur Rifah, Kasi Publikasi dan Promosi Perpustakaan yang bertindak sebagai panitia.

Pada momen yang sama, Syaiful Anam Assyaibani juga berharap Perpustakaan Umum Lamongan bisa menjadi wadah penerbitan mandiri hingga bisa menerbitkan karya-karya dari penulis Lamongan. Itu membuat literasi di Lamongan makin berkembang.

Agus Buchori
Anggota Literacy Institute Lamongan
agusbuchori@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved