Citizen Reporter

Bincang Buku Mohamad Sobary di Kafe Pustaka UM:The President Disebut Novel Bersifat Propaganda

Rupanya, mulai September, Mohamad Sobary sudah ikut meramaikan pesta demokrasi dengan caranya. Ia menerbitkan buku berjudul The President.

Bincang Buku Mohamad Sobary di Kafe Pustaka UM:The President Disebut Novel Bersifat Propaganda
foto: istimewa
Suasana Bincang Buku Mohamad Sobary berjudul The President di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. 

BEBERAPA bulan lagi, tepatnya Rabu (17/4/2019) adalah waktu bagi warga Indonesia menentukan siapa pemimpin negara selanjutnya. Rupanya, mulai September, Mohamad Sobary sudah ikut meramaikan pesta demokrasi dengan caranya. Ia menerbitkan buku berjudul The President.

Kali ini, Malang menjadi salah satu tempat diselenggarakannya bincang buku yang ia tulis, Senin (17/12/2018) di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM).

Kegiatan itu diselenggarakan atas kerja sama Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) Universitas Brawijaya (UB), Pelangi Sastra Malang, dan Kafe Pustaka. Belum lagi para pesohor yang ikut serta dan mengutarakan gagasannya pada bincang buku itu.

Djoko Saryono, salah satu pembicara menyebutkan, jika setiap karya yang diciptakan Sobary selalu memiliki benang merah yang terlihat, yaitu menampilkan perspektif yin-yang atau gelap-terang.

Selain itu, ia juga selalu menekankan sisi kemansiaan dan kerakyatan. Begitu pula dengan buku The President. Buku itu merupakan jenis novel yang tidak hanya terjebak pada estetisme, juga tidak hanya diskursus.

Lain lagi yang dikatakan Megasari N Fatanti dari CCFS UB. Menurutnya, novel yang diciptakan Sobary bersifat propaganda. Terdapat emosional yang terbentuk dalam buku itu dan dalam diri pembaca, meskipun kesamaan tercipta dari maya atau fiksi.

Awalnya, ada salah satu peserta berjaket hitam yang menganggap jika isi novel adalah pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari berbagai presiden Indonesia. Namun, Sobary menjelaskan tidak demikian. Malah pada salah satu sesi Sobary menyebut jika pada saat tertentu, orang harus memihak pada salah satu pilihan. 

“Bukan dengan tenang hanya netral-netral begitu saja,” kata Sobary.

Salah satu bukti keberpihakan Sobary diwujudkan pada novel The President. Djoko Saryono dan Mochtar Pabottingi bersepakat, setelah membaca, mereka menyebut Mohamad Sobary telah terbiasa menulis. Rasanya mengalir begitu saja saat membaca buku.

Mochtar Pabottingi, peneliti politik, lebih banyak membaca cuplikan-cuplikan dari narasi yang ada di dalam novel. Ia memberikan gambaran para peserta yang hadir pada malam itu.

Salah satu di antaranya, Mochtar memberikan cplikan narasi tentang dunia pesantren yang menunjukkan sisi kekonyolan dalam cerita.

Khoirul Muttaqin
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang
khoirulmuttaqin15@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved