Citizen Reporter

Mahasiswa Ubhara Gelar Festival Intelektual Deep Inside Soerabaja: Ajak Anak Muda Sadar Sejarah

Sejumlah bukti sejarah Kota Surabaya yang diabadikan dalam bingkai foto terpampang dalam festival intelektual bertema Deep Inside Soerabaja.

Mahasiswa Ubhara Gelar Festival Intelektual Deep Inside Soerabaja: Ajak Anak Muda Sadar Sejarah
foto: istimewa
Festival tidak hanya diisi pameran fotografi juga menampilkan banyak kegiatan seni seperti pertunjukan tari, puisi, monolog, musikalisasi puisi, dan teater. 

SEJUMLAH bukti sejarah Kota Surabaya yang diabadikan dalam bingkai foto terpampang dalam festival intelektual bertema Deep Inside Soerabaja. Festival digelar Unit Kreativitas Pengembangan Intelektual Mahasiswa (UKPIM) Universitas Bhayangkara (Ubhara), Minggu, (9/12/2018).

Pada pameran fotografi yang digelar di Craft Center lantai LG Royal Plaza Surabaya itu terdapat banyak potret sejarah Surabaya seperti Hotel Oranje yang sekarang telah menjadi Hotel Majapahit. Tak hanya pameran fotografi, festival itu juga menampilkan banyak kegiatan seni seperti pertunjukan tari, puisi, monolog, musikalisasi puisi, dan teater.

Dewi Ambarwati, Panitia UKPIM Ubhara mengungkapkan, festival itu untuk semua usia. Itu agar mereka mengerti dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang membuat Surabaya semakin apik.

“Semoga dengan diadakannya acara ini, masyarakat dan terutama remaja akan bertambah wawasan tentang Surabaya,” ucap Dewi Ambarwati.

Pertunjukan itu memiliki tema dan arti yang berbeda-beda. Azrul Hisyam Azhari, ketua pelaksana acara mengatakan, masing-masing pertunjukan berhubungan dengan pentingnya moral dan kebudayaan yang harus diperhatikan masyarakat Surabaya.

“Generasi saat ini sudah tidak mengenal kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu, saya memilih judul Deep Inside Soerabaja dan pertunjukan dalam acara ini untuk mengingatkan kepada masyarakat pentingnya moral dan kebudayaan,” kata Azrul.

Dia mencontohkan, tari Sparkling Surabaya yang ditampilkan memiliki arti Surabaya yang berkilau apabila masyarakatnya memiliki moral dan melestarikan kebudayaannya. Sementara untuk puisi dipilih tema Semangat Juang, Semangat Kepemudaan.

“Jadi, para pemuda Indonesia khususnya Surabaya harus tetap semangat dalam hal apa pun. Jangan menjadi pemuda yang tidak berguna karena tidak memiliki moral,” katanya.

Sementara pertunjukan monolog Untuk Putriku yang Belum Lahir menceritakan laki-laki yang takut gagal menjadi seorang ayah.

“Sekarang banyak remaja yang tidak memiliki moral untuk menghormati orang tuanya,” tambah Azrul.

Musikalisasi puisi Sajak Orang Pinggiran memotret banyaknya orang pinggiran yang tidak mengetahui apa itu moral. Mereka tidak paham terhadap kebudayaan yang ada sejak lama di Surabaya.

“Bisa juga orang pinggiran ini rendah akan pengetahuan mengenai budaya,” jelasnya.

Terakhir ditampilkan teater yang berjudul Si Penguasa: Si Pengisi Perut Saja. Teater yang dibuat termasuk dalam seni atau kreativitas remaja Surabaya.

“Bukan cuma budaya, kami juga bagian dari apa yang ada dalam Surabaya,” kata M Nizar, panitia.

Ulva Syahrotul Afifah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Bhayangkara Surabaya
laksmanafaatih@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved