Berita Tulungagung

Kasus Demam Berdarah Dengue di Tulungagung Paling Banyak di Jatim

abupaten Tulungagung menempati posisi tertinggi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur dengan 249 pasien, tiga di antaranya meninggal dunia.

Kasus Demam Berdarah Dengue di Tulungagung Paling Banyak di Jatim
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Seorang tenaga medis tengah memeriksa pasien DBD di RSUD dr Iskak, Tulungagung. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Kabupaten Tulungagung menempati posisi tertinggi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur dengan 249 pasien, tiga di antaranya meninggal dunia.

Menurut Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Didik Eka, ledakan DBD dipicu anomali cuaca setiap lima tahun.

Selain itu faktor angka bebas jentik di Tulungagung yang hanya 88 persen. Padahal standar yang ditetapkan Kemenkes, angka bebas jentik minimal 95 persen.

Artinya, dari total permukiman di Tulungagung, 12 persen di antaranya masih ada jentik nyamuk. Lokasi-lokasi temuan jentik ini sama persis dengan titik kasus DBD yang saat ini mencuat.

Bahkan menurut Didik, setiap tahun titik yang terserang sama persis.

“Kalau kita perhatikan, misalnya tahun lalu desa A RT, RW sekian kita fogging. Tahun ini di lokasi yang sama juga di-fogging lagi karena ada kasus DBD,” ungkap Didik, Kamis (24/1/2019).

Ayah Bayi yang Dibuang Ibunya ke Kloset WC Puskesmas Mengaku Tak Tahu Pacarnya Hamil Sebelum Putus

Kemenkes Ambil Sampel Darah Pasien Demam Berdarah Dengue di Tulungagung

Pria di Bangkalan Rekam Detik-detik Dia Memperkosa Mantan Pacar Lalu Mengunggah ke WA & Facebook

Selain itu kebiasaan budidaya ikan juga turut memicu perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti, vektor DBD.

Kebiasaan dimaksud adalah, para pembudidaya biasa menyiapkan air dalam kolam dalam beberapa hari.

Mereka baru memasukkan benih ikan jika di dalam kolam sudah ada jentik nyamuk.

Alasannya jika sudah ada jentik, maka PH air memungkinkan ikan hidup dengan resiko kematian kecil.

Selain itu jentik nyamuk juga menjadi makanan benih ikan yang baru dimasukkan.

"Kebiasaan ini yang berbahaya, karena nyamuk bisa berkembang biak," sambung Didik.

Saat ikan selesai dipanen, kolam yang berada di dalam tanah juga tidak bisa dikuras sempurna, kecuali dengan mesin pompa air.

Saat hujan kolam ini menampung air dan menjadi sarang nyamuk.

"Kebiasaan ini juga linier dengan kasus DBD yang terjadi," ujar Didik. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved