Berita Surabaya

Pelukis Saiful Mujib Ma'ruf Hadirkan Karya Perpaduan Local Wisdom dan Teknologi

Saiful menghadirkan hal baru dalam sebuah lukisan. Tak hanya menampilkan ide lewat gambar itu sendiri, tapi juga menggunakan....

Pelukis Saiful Mujib Ma'ruf Hadirkan Karya Perpaduan Local Wisdom dan Teknologi
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Seorang pengunjung pameran menyaksikan lukisan Saiful 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tak lama bagi Saiful Mujib Ma’ruf mewujudkan tantangan dari Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) untuk menghadirkan sebuah karya, pada pameran bertajuk Local Wisdom.

Saiful mencoba menghadirkan hal baru dalam sebuah lukisan. Tak hanya menampilkan ide lewat gambar itu sendiri, tapi juga menggunakan komponen dan bahan yang mendukung nilai filosofis di dalamnya.

Dalam lukisannya berjudul Karma Yoga, Saiful menggambarkan lukisan surealis, dengan dua tokoh perwayangan.

Pertama sosok Subadra, perempuan yang diselimuti kegelapan. Sementara sosok lain dalam lukisan tersebut adalah laki-laki, lakon jenaka yang terlihat silau dan bersinar.

Dua karakter yang berlawanan itu menurut Saiful adalah gambaran kritik terhadap kehidupan pernikahan saat ini.

Di mana dalam pewayangan, Subadra adalah sosok istri yang penuh kebaikan dan setia, sementara laki-laki pengejar harta dan hidup dalam kemewahan.

“Itulah mengapa satu saya buat hitam, menggambarkan kesedihan sementara emas itu menggambarkan laki-laki pengejar duniawi,” ujar Saiful, Selasa (22/1/2019).

Untuk menyampaikan pesan lebih mendalam, Saiful menggunakan kantong keresek, juga komponen elektronik dari NFC, seperti sekring dan pita hotprint.

Dia bahkan membongkar dua alat elektroniknya demi membuat maha karya ini.

"Dua wayang kulit ini juga saya dapat secara spesial, saya pungut dari tempat sampah setelah dibuang pemiliknya," akunya.

Bukan sekadar material lukisan biasa, masing-masing komponen memiliki makna filosofis selaras dengan cerita yang ingin disampaikan.

"Misalnya kantong kresek, dibuat dari material recycle yang sudah tidak bisa diolah lagi. Ini menggambarkan titik terakhir dari kehidupan. Makanya saya gabung dengan wayang Subadra yang filosofisnya semua orang juga akan kembali pada titik terakhir, yaitu kematian," pesannya dalam. Pipit Maulidiya

Foto Zaimul Haq - Seorang pengunjung pameran menyaksikan lukisan Saiful

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved