Berita Tuban

Begini Cara Pembuatan Ampo, Camilan Teman Minum Kopi dan Teh Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

pembuatan camilan ampo ini tidak sembarangan menggunakan tanah liat, melainkan harus tanah liat hitam

Begini Cara Pembuatan Ampo, Camilan Teman Minum Kopi dan Teh Khas Tuban Berbahan Tanah Liat
surya/m sudarsono
Sarpik pembuat ampo, makanan dari tanah liat asal Tuban, menunjukkan irisan ampo yang sudah siap makan 

SURYA.co.id | TUBAN - Siapa sangka jika tanah liat juga bisa dibuat makanan. Seperti halnya camilan ampo yang dibuat Sarpik (40), warga Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Makanan yang berbahan dasar tanah liat ini bisa dibuat camilan yang dihidangkan di atas meja, disajikan dengan kopi atau teh manis.

Dikatakan Sarpik, pembuatan camilan ampo ini tidak sembarangan menggunakan tanah liat, melainkan harus tanah liat hitam.

Ampo, Camilan Berbahan Tanah Liat dari Tuban, Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

"Prosesnya memerlukan beberapa tahapan, tak asal pakai tanah liat. Ampo juga tak ada bahan campuran lainnya, jadi murni hanya dari tanah liat," kata Sarpik sambil menunjukkan ampo yang siap makan di dapur rumahnya, Senin (21/1/2019).

Seperti ini proses pembuatannya:

1. Tanah liat ini dibentuk persegi empat agak memanjang dengan tangan, ada alat bantu palu dari kayu untuk menyesuaikan ukurannya. Sesekali dibasahi dengan air yang sudah disediakan.

2. Setelah terbentuk, baru diserut dengan seseh (bambu tipis) agar menghasilkan ampo seperti bentuk kue astor dengan ukuran kecil.

3. Kemudian, untuk bisa jadi ampo siap makan, maka hasil serutan tadi bisa dijemur 30 menit, setelah itu ditaruh di atas tungku berbahan bara api kayu selama 30 menit.

4. Setelah ampo berwarna coklat kehitaman usai terkena pengasapan, ampo baru siap makan.

Setelah jadi, maka ampo bisa dijual atau disimpan di rumah, karena sewaktu-waktu biasanya ada orang yang membeli.

Harga jualnya sendiri, per kilogram Sarpik mematoknya Rp 10 ribu.

Saat sudah ada di pedagang pasar, ia tak banyak mengetahui harganya.

Menurutnya, idealnya jika dipasar ampo bisa dijual dengan harga Rp 12-15 ribu.

"Kalau saya jualnya per kilogram Rp 10 ribu, sebagian saya jual dan ada yang saya simpan di rumah untuk persediaan jika ada yang membeli," Terang Sarpik yang meneruskan usaha Ibunya, Rasimah (70).

Dalam sehari, setidaknya ibu empat anak itu bisa memproduksi ampo 8-12 kilogram per harinya.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved