Kesehatan

Tak Mau Kanker Serviks? Jangan Malu Ikut Pap Smear

Kanker serviks adalah penyakit kanker yang menjangkiti perempuan. Untuk mencegahnya, jangan takut melakukan pap smear. Ini penjelasannya...

Tak Mau Kanker Serviks? Jangan Malu Ikut Pap Smear
net
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kanker serviks ialah salah satu kanker yang paling banyak menjangkit perempuan. Sayangnya, kesadaran perempuan untuk mencegah terkena penyakit ini masih cukup rendah. 

Menuut Dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Onkologi Surabaya, dr Pungky Mulawardhana SpOG (K) Onk, menuturkan, untuk mencegah kanker serviks, bisa melalui pap smeare. 

Kata dia, pap smear dilakukan tiga tahun setelah berhubungan seksual pertama kali, kemudian rutin dilakukan satu sampai dua tahun sekali.

Pap smear adalah uji medis yang dilakulan untuk melihat kondisi sel-sel pada serviks.

Hasil pemeriksaan sel-sel tersebut, lanjutnya dibaca ahli patologi sehingga dapat diketahui kondisinya.

"Perempuan Indonesia kesadarannya rendah untuk pap smear. Mereka malu jika dokternya laki-laki, kadang kalau dokternya perempuan juga malu," tuturnya, Jumat (18/1/2019).

"Mereka malu atau takut ada kelainan," lanjutnya.

"Padahal sebenarnya pap smear atau screening tidak hanya untuk orang yang sakit. Tapi juga orang yang sehat. Orang tanpa keluhan seharusnya juga lakukan pap smear," jelas Pungky Mulawardhana.

Sebagai contoh, lanjut Pungky Mulawardhana, angka pap smear atau screening di Indonesia kurang dari 5 persen.

"Jadi sedikit sekali yang melalukannya. Karena budaya malu dan takut," tuturnya.

Rata-rata, lanjutnya, banyak yang baru ke dokter apabila sudah mulai ada keluhan dan biasanya sudah mencapai stadium lanjut.

Maka dari itu, tutur Pungky Mulawardhana, jangan malu dan takut pap smear.

"Dengan pap smear, harapannya kanker serviks dapat dicegah. Jangan sampai menjadi kanker," tuturnya.

Kalau sampai pada lesi pra kanker, lanjut Pungky Mulawardhana, bisa segera diobati dan kesembuhannya seratus persen.

"Kanker serviks, pada mulanya menyerang serviks namun kemudian menyebar ke organ lain misalnya usus. Jika dibiarkan bisa menyerang seluruh tubuh," pungkasnya.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved