Citizen Reporter

Seminar Nasional Pendidikan Dasar Pascasarjana Unesa, Pendidik Diingatkan Tak Panik di Era Digital

Di era digital, sudah tidak bisa dielakkan, pendidik harus familiar dengan kecepatan perubahan.

Seminar Nasional Pendidikan Dasar Pascasarjana Unesa, Pendidik Diingatkan Tak Panik di Era Digital
foto: istimewa
Seminar Nasional Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membahas tentang pentingnya menyiapkan diri untuk membangun budaya literasi pada era digital. 

MENYIAPKAN  diri menjadi pendidik di masa sekarang tidak sekadar bisa menguasai materi atau menjalankan kurikulum. Diperlukan kecepatan menguasai dan mengikuti perkembangan zaman.

Di era digital, sudah tidak bisa dielakkan, pendidik harus familiar dengan kecepatan perubahan. Meski demikian, di satu sisi mereka juga harus tetap menjaga keberagaman yang ada dalam masyarakat sehingga dapat menjaga koridor NKRI.

Di tangan pendidik juga modal utama harus diberikan kepada para peserta didik untuk menguatkan NKRI.

Dalam Seminar Nasional Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dibahas tentang pentingnya menyiapkan diri untuk membangun budaya literasi pada era digital.

Siswa yang merupakan generasi melek digital harus bisa memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan literasi. Itu sesuai dengan tema yang diangkat, yaitu Membangun Budaya Literasi di Era Digital untuk Membangun Kebhinnekaan.

Seminar itu menghadirkan Djoko Saryono, Ketua Tim Pakar Literasi Nasional sekaligus guru besar dari Universitas Negeri Malang, dan Setya Yuwana Sudikan, guru besar dari Unesa.

Ismet Basuki, Direktur Pascasarjana Unesa, mengingatkan agar selalu up date perkembangan ilmu dan teknologi. Itu juga berarti harus tetap mendorong peserta didik untuk masuk dalam budaya literasi.

“Tanpa menyelenggarakan budaya literasi yang bagus, kita akan ketinggalan zaman. Guru menyampaikan materi saat ini dan masa yang akan datang. Materi cepat using. Maka siswa dan mahasiswa perlu beradaptasi dengan teknologi yang sekarang menjadi big data,” katanya saat membuka seminar di Gedung K10 di kampus Unesa Ketintang, Sabtu (22/12/2018).

Kecepatan mengakses pengetahuan diharapkan dapat dilakukan para pendidik mengingat kebutuhan akan informasi sangat cepat. Itu diingatkan Setya Yuwana.

“Siapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman. Ke depan mereka harus menjadi sosok yang responsif, adaptif, dan andal. Literasi jangan dipahami sekadar membaca dan menulis. Itu lebih fiarahkan berpikir kritis, berpikir cerdas, dan tetap bermoral,” ungkap Setya Yuwana.

Meski demikian, kesadaran akan perbedaan dan keberagaman itu juga harus dipahami. Dengan demikian, pendidik diharapkan dapat berpikir ulang ketika akan memilah, memilih, dan memutuskan materi yang diberikan kepada peserta didik. Sebelum diberikan, pendidik harus berpikir jauh ke depan dengan memperhitungkan dampaknya.

Keberagaman itu harus dipahami lebih spesifik. Djoko Saryono menunjukkan perbedaan lingkungan di pesisir, pedalaman, perbatasan, perdesaan, dan perkotaan. Semua memiliki karakter berbeda. Dengan demikian, literasi dan pemberian materi juga harus disesuaikan dengan keragaman kebudayaan di tiap wilayah.

“Jangan panik dengan cepatnya perubahan. Pada dasarnya materi utamanya sama, tetapi media menulisnya berbeda. Gelontoran perubahan itu harus disikapi dengan adaptasi. Kompetensi saja tidak cukup karena harus ditemani karakter dan literasi dasar,” papar Djoko.

Jika memiliki persiapan lebih matang, saat menghadapi perubahan yang cepat di era digital, para pendidik tidak lagi cemas. Literasi bisa dijalankan dengan cara apa saja, termasuk digital. Tidak hanya faktor materi dan media yang harus disiapkan, tetapi juga penguatan karakter peserta didik. Jika itu sudah dipegang, perubahan zaman dapat dengan mudah diikuti.

Syaila
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar
Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya
seminardikdas2018@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved