Citizen Reporter

Cara Mengenang Gus Dur, Gelar Haul Ke -9 Diisi Testimoni Para Pejabat di Era Gus Dur Presiden

Fenomena Gus Dur seolah tak pernah habis dibahas. Meskipun secara ragawi telah wafat, namun kiprah perjuangan dan pemikirannya terus didiskusikan.

Cara Mengenang Gus Dur, Gelar Haul Ke -9 Diisi Testimoni Para Pejabat di Era Gus Dur Presiden
foto: istimewa
Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

FENOMENA Gus Dur seolah tak pernah habis dibahas. Meskipun secara ragawi telah wafat, namun kiprah perjuangan dan pemikirannya terus didiskusikan, diseminarkan, ditulis dalam bentuk buku hingga dihauli di berbagai tempat di Indonesia.

Haul ke-9 Gus Dur yang diselenggarakan di Pesantren Tebuireng juga menjadi bukti sosok itu tetap dicintai dan masih mendapat tempat di hati ribuan para pecintanya, (16/12/2018).

Ragam testimoni dan penuturan kisah tentang Gus Dur dari berbagai golongan membuktikan, Gus Dur adalah sosok yang bisa diterima semua kalangan.

Bergantung dari sudut mana menilainya, Gus Dur hadir dalam golongan minoritas, kaum tertindas, masyarakat biasa, para seniman, budayawan, olahragawan, pemuka agama, hingga para politisi, kompak menyatakan ia adalah sosok yang asyik dan penuh dengan teladan.

Dalam peringatan 9 tahun wafatnya Gus Dur, terdapat beragam rangkain acara yang meliputi tahlil akbar dan pengajian umum. Kemudian ada juga ceramah agama oleh KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal).

Acara itu juga dihadiri Bondan Gunawan (Menteri Sekretaris Negara era Gus Dur), Wahyu Muryadi (Kepala Protokol Istana era Gus Dur), serta Kwik Kian Gie (Menko Perekonomiam era Gus Dur).

Masing-masing sahabat memberi testimoni tentangnya. Itu seperti yang disampaikan Wahyu. Yang pertama, Gus Dur betul-betul menegakkan kemandirian dan independensi jurnalisme. Yang kedua adalah pandangan Gus Dur, tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian dan yang ketiga prinsip dekat dengan rakyat, seperti kedekatan Gus Dur dengan masyarakat Papua.

Sementara menurut testimoni Kwik Kian Gie, ia mengaku sangat terkejut ketika ditunjuk menjadi menteri. Ia tidak menyangka kedudukan Menko Perekonomian diberikan kepada orang keturunan Tionghoa yang tidak mengganti namanya dan beristri orang Belanda.

“Gus Dur adalah orang besar dan pejuang pluralis. Buktinya ketika pengurus Konghucu meminta kepada saya untuk bersama-sama menghadap Gus Dur guna meminta dukungannya menyatakan Konghucu sebagai agama di Indonesia,” jelasnya.

Demikianlah sekapur sirih tentang kisah perjuangan presiden RI itu dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi, pluralism, dan keadilan sosial sebagaimana yang diamanatkan empat pilar bangsa.

Semoga haul Gus Dur menjadi pelajaran bagi generasi mendatang tentang pentingnya merawat kebhinnekaan.

A Kanzul Fikri
Pengajar di PP Al-Aqobah Jombang
akhmadkanzulfikri87@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved