Citizen Reporter

Ke Jember Mampirlah ke Kampoeng Batja, Taman Baca Dilengkapi Gazebo dan Gending - gending Jawa

Kampoeng Batja, sebuah taman baca yang terletak di Jalan Nusa Indah, Krajan, Jemberlor, Patrang, Kabupaten Jember.

Ke Jember Mampirlah ke Kampoeng Batja, Taman Baca Dilengkapi Gazebo dan Gending - gending Jawa
foto: istimewa
Badan Pengurus Harian Imadiklus Universitas Negeri Malang mengadakan kunjungan ke Universitas Jember, Jumat (23/11/2018). 

IMADIKLUS atau disingkat dengan Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah se-Indonesia merupakan wadah berkumpulnya seluruh mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di seluruh Indonesia.

Badan Pengurus Harian Imadiklus Universitas Negeri Malang mengadakan kunjungan ke Universitas Jember, Jumat (23/11/2018).

Kunjungan itu bertujuan menjalin silaturahmi antara mahasiswa PLS Universitas Negeri Malang (UM) dengan mahasiswa PLS Universitas Jember. Mahasiswa kedua kampus itu saling berbagi pengalaman.

Mereka tak hanya berjalan-jalan. Sabtu (24/11/2018), mereka berkunjung ke Kampoeng Batja, sebuah taman baca yang terletak di Jalan Nusa Indah, Krajan, Jemberlor, Patrang, Kabupaten Jember.

Tempat itu terdiri atas perpustakaan kecil beserta koleksi barang-barang antik. Selain itu, dilengkapi pula gazebo, pojok baca, kebun, dan lain-lainnya.

Dibangun oleh Imam Suligi yang kini telah berusia 68 tahun, tempat itu menarik didatangi. Kakek ini sosok yang sederhana, ramah dan murah senyum. Lagu-lagu Jawa yang selalu diperdengarkannya menggema menemani pengunjung yang datang.

Sudah sejak kecil ia suka membaca buku, begitupun keluarganya. Dulu ayahnya merupakan pegawai kantor telepon dan agen majalah, sehingga barang-barang yang ada merupakan warisan yang berharga.

Ketika sekolah tahun 1980 ia telah berhubungan dengan perpustakaan dan menjadi penjaganya. Ia pensiun dari profesi guru pada 2009. Sewaktu menjabat ketua RT, ia mengusulkan untuk membangun Taman Baca, dan akhirnya diterima dan mendapatkan bantuan dari PNPM.

Sebeumnya, ia telah memiliki perpustakaan kecil-kecilan dan memiliki tanah yang sekarang menjadi lahan tempat itu telah hampir 60 persen. Ia menulis surat kepada penerbit-penerbit maupun kementerian dan banyak yang merespons dengan baik hingga tidak segan-segan memberikan buku-buku.

Sebelumnya sering terjadi perubahan nama, hingga akhirmya ia mencetuskan nama Kampoeng Batja.

"Lingkungan diberikan efek, identitasnya itu menjadi bagian dari perubahan sikap. Kampoeng Batja artinya apa? Sekampung suka membaca. Berbekal dari nama itu, bisa dikenal seluruh Indonesia. Karena nama itu orisinal, apalagi saya menggunakan ejaan lama," tuturnya.

Lewat media sosiallah, tempat ini mulai dikenal banyak orang. Ia memiliki hubungan baik dengan orang luar negeri pun berkat adanya media sosial. Imam sempat berkolaborasi untuk menulis buku dengan orang Denmark. Beberapa penghargaan pun telah didapat dari aktivitasnya.

Nindya Seftiana
Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang
nindyaseftiana@yahoo.co.id

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved