Berita Jawa Timur

Ketua MUI Jatim Minta Agar Pelaku Prostitusi Artis Dihukum Tanpa Memandang Peran. Ini Dalilnya

Ketua MUI Jatim, Abdussomad Buchori mendukung penuh upaya Polda Jatim untuk mengungkap dan membongkar praktik prostitusi yang melibatkan artis

Ketua MUI Jatim Minta Agar Pelaku Prostitusi Artis Dihukum Tanpa Memandang Peran. Ini Dalilnya
tribun jatim/praditya fauzi
Ketua MUI Jatim, Abdussomad Buchori didampingi Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (15/1/2019). Dia meminta agar mereka yang terlibat prostitusi artis dihukum tanpa pandang peran. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pradhitya Fauzi

SURYA.co.id | SURABAYA - Ketua MUI Jatim, Abdussomad Buchori mendukung penuh upaya Polda Jatim untuk mengungkap dan membongkar praktik prostitusi yang melibatkan sejumlah artis dan model.

Abdus menuturkan, langkah-langkah yang dilakukan Polda Jatim beserta seluruh jajarannya sangatlah tepat untuk membongkar prostitusi itu.

"Sebagai majelis ulama, kami sangat mendukung sikap dan langkah-langkah yang dilakukan Polda Jatim beserta jajarannya, karena prostitusi itu adalah perbuatan yang dilarang oleh agama maupun perundang-undangan," terang Abdus kepada awak media, Selasa (15/1/2019).

Abdus menambahkan, ia dan publik ingin kasus itu segera diusut terus sampai tuntas.

"Permainan orang-orang elit misalnya dengan harga sangat mahal, itu jelas-jelas tidak sesuai dengan Jatim, Pak Gubernur Jatim juga berkali-kali menyampaikan Jatim makmur, berakhlak mulia dalam kerangka NKRI," lanjutnya.

Abdus juga mengusulkan, pada tahun 2010 lalu, prostitusi ditutup, baik prostitusi terbuka maupun terselubung.

"Yang ada di 47 titik di Jatim itu ditutup mulai 2010, berakhir tahun 2016, WTS (Wanita Tuna Susila) ini kelas bawah, lah ini lebih kalau WTS ditutup ada online, mungkin sejak dulu sudah ada, baru sekarang dibongkar, ini tidak benar, ini tidak benar jangan sampai Jatim jadi ajang prostitusi," beber Abdus kepada awak media, Selasa (15/1/2019).

Abdus menambahkan, prostitusi bukanlah budaya di Indonesia, terutama di Jatim.

"Negara Indonesia ini moyoritas orang muslim, negara kita negara Pancasila, sila pertama itu Ketuhanan, itu tidak cocok dengan falsafah Ketuhanan," lanjutnya.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved