Berita Tulungagung

Potret Pejuang Kopi Wilis Tulungagung, Kris Berjuang Selamatkan Kopi Kobra yang Terabaikan

Warga Tulungagung ini berhasil menemukan dan menyelamatkan varietas kopi Kobra, kopi lokal Wilis yang nyaris punah.

Potret Pejuang Kopi Wilis Tulungagung, Kris Berjuang Selamatkan Kopi Kobra yang Terabaikan
istimewa
Kristian Yuono (36) ketika memanen kopi arabika yang dikenal warga sebagai kopi Kobra (Kolombia-Brazil) milik Mbah Painem (80) di Desa Gambiran, Kecamatan Pagerwojo. Kopi Kobra khas Tulungagung ini nyaris punah. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Kecintaannya kepada kopi mendorong Kristian Yuono (36), warga Desa Sembon, Kecamatan Karangrejo menjelajah lereng Gunung Wilis Kecamatan Sendang, Tulungagung. Berkat kegigihannya, Kris berhasil menemukan dan menyelamatkan varietas kopi Kobra, kopi lokal Wilis yang nyaris punah.

Awalnya Kris bekerja sebagai peternak sapi di rumahnya. Untuk keperluan pakan sapi, ia membeli tanah di wilayah Kecamatan Sendang, di tahun 2015. Di tengah hamparan rumput gajah yang jadi pakan sapi, ada beberapa pohon kopi, termasuk kopi Kobra.

“Waktu itu kopinya saya goreng sendiri, terus rasanya kok enak, beda dengan kopi kemasan. Sebagian saya jual di warung saya,” tutur Kris.

Kris kemudian diajak ke coffee party yang diadakan oleh Bank Indonesia Kediri. Lewat coffee party inilah Kris mulai mengenal seluk beluk tentang kopi. Ia pun mempunyai keinginan untuk menemukan kopi berkualitas dari Wilis.

“Saya berkeyakinan, pasti ada kopi yang bagus. Karena dari cerita orang-orang tua, dulunya ada perkebunan kopi di sini,” sambung Kris.

Ketika itu jenis kopi yang banyak ditemukan adalah excelsa. Namun tujuannya adalah menemukan kopi arabika, yang mempunyai harga paling bagus.

Ayah satu anak ini sempat menemukan arabika di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Namun ternyata kualitasnya masih dianggap kurang.

Kris pun semakin bertekaduntuk mencari ke tempat yang lebih tinggi. Usahanya membuahkan hasil, saat menelusuri Gunung Wilis wilayah Tulungagung di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.

Ada sekitar 10 pohon kopi arabika milik Mbah Painem (80), di Desa Gambiran, Kecamatan Pagerwojo. Pohon kopi tua ini mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter. Tempatnya ada di tengah-tengah kebun sayur.

“Saya tanya yang punya, katanya hanya dikonsumsi sendiri, tidak pernah dijual. Tapi kalau dijual harganya hanya Rp 5000 per kilogramnya,” ujar Kris.

Halaman
123
Penulis: David Yohanes
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved