Rumah Politik Jatim

ForJatim Berharap Calon Kandidat Pengganti Risma di Pilwali Surabaya 2020 Tak Saling Klaim Dukungan

Forum Reformasi Jawa Timur ( ForJatim) menilai Pilwali Surabaya 2020 bukan hanya menjadi perhatian publik di regional Jawa Timur.

ForJatim Berharap Calon Kandidat Pengganti Risma di Pilwali Surabaya 2020 Tak Saling Klaim Dukungan
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Liason Officer (LO) Khofifah-Emil, Hadi Mulyo Utomo ketika ditemui di KPU Jatim, Kamis (18/1/2018). ForJatim Berharap Calon Kandidat Pengganti Risma di Pilwali Surabaya 2020 Tak Saling Klaim Dukungan 

SURYA.co.id | SURABAYA - Forum Reformasi Jawa Timur ( ForJatim) menilai Pilwali Surabaya 2020 bukan hanya menjadi perhatian publik di regional Jawa Timur.

Namun, perhelatan yang akan berlangsung pada 2020 tersebut akan menjadi perhatian publik secara nasional. Hal itu tak lepas dari posisi Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta.

Apalagi, Pilwali Surabaya 2020 mendatang akan sekaligus menjadi ajang mencari suksesor Wali Kota Tri Rismaharini yang telah memimpin selama dua periode terakhir.

7 Fakta soal Nurhadi dan Aldo (Dildo) yang Viral di Media Sosial, Ditawari YouTuber Asal China

Tak mengherangkan apabila belakangan kian banyak spekulasi dan prediksi tentang siapa tokoh atau figur yang akan berkontestasi mencalonkan diri menjadi pengganti Risma di Surabaya.

Meski demikian, Hadi Mulyo Utomo, Ketua ForJatim berharap Pilwali Surabaya 2020 tidak menjadi ajang demokrasi nepotisme.

"Saya berharap pilkada di tahun 2020 nanti bukan ajang bagi demokrasi nepotisme. Tetapi ajang bagi anak bangsa untuk membangun daerah dengan modal politik, kulitas, dan integritas," kata Hadi dikutip dari rilis yang diterima SURYA.co.id, Senin (7/1/2018).

Menurut penasehat hukum Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak pada Pemilihan Gubernur 2018 lalu, bursa Pilwali Surabaya 2020 tak lepas dari spekulasi dan klaim dukungan.

Bocah Perempuan 14 Tahun Ini Layani 8 Pria Hidung Belang Tiap Hari, Upah Rp 80 Ribu Sekali Main

Klaim itu menyasar tokoh, elit dan politisi senior. Satu di antaranya Khofifah yang kini mnejadi Gubernur Jatim terpilih periode 2019-2024.

Alumni terbaik Fakultas Hukum pascasarjana Unair tahun 2012 ini mengungkapkan, terlepas dari kebenaran klaim tersebut, masyarakat meyakini bahwa menjadi pemimpin di Kota Surabaya tidak bisa diwujudkan dengan klaim dukungan.

"Surabaya itu kota dengan sederet kemajuan, prestasi, dan nilai strategis. Berikut dengan kompleksitas, problematika perkotaaannya. Karena itu harus dipimpin oleh orang mempunyai kompetensi yang berkualitas dan riwayat kepemimpinan yang sudah teruji. Bukan figur yang hanya mengandalkn nepotisme," ujar Hadi.

Ada Kader Mbalelo Dukung Jokowi-Amin, DPW PAN Jatim : Tak Elok Menentang Keputusan Partai

Alumni aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini meyakini warga Surabaya juga berharap tokoh senior politik baik kancah nasional atau daerah juga dapat memperkaya wawasan serta melakukan edukasi politik.

Misalnya, dalam memberikan kriteria pemimpin yang ideal bagi keberlanjutan roda pemerintahan di Surabaya. Salah satunya integritas moral yangg sudah terbukti baik.

"Manifestasi prinsip demokrasi dalam Pilwali Kota Surabaya adalah kemampuan memfilterisasi (menyaring) dan mencetak pemimpin masa depan kota pahlawan yang berkualitas dan berintegritas. Bukan orang-orang yang hanya memanfaatkan momentum kesempatan politik alias aji mumpung dekat dengan pemangku kekuasaan," papar mantan staf pengajar Fakultas Hukum di Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut.

Untuk diketahui, sejumlah nama calon kandidat wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya mulai bermunculan. Mereka diantaranya Fandi Utomo (PKB), Adies Kadir (Golkar), Whisnu Sakti Buana (PDIP/Wawali Surabaya), Bayu Airlangga (Demokrat/menantu Pakde Karwo), Fuad Bernardi (putera Risma), Azrul Ananda (Presiden Persebaya), Moh Nur Arifin (KNPI Jatim/Wakil Bupati Trenggalek), Moh Abid Umar Faruq (Ketua GP Ansor Jatim), Ipong Muchlissoni (NasDem, Bupati Ponorogo), KH Zahrul Azhar Asad/Gus Hans (Golkar/Darul Ulum), Ari Kusuma (Kordinator Relawan Khofifah).

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved