Berita Ekonomi Bisnis

Alasan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Minta Izin Penggunaan Sumber Air Dipermudah  

Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) meminta regulasi perizinan penggunaan sumber air semakin diperlancar dan dipermudah.

Alasan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Minta Izin Penggunaan Sumber Air Dipermudah  
foto:net
Ilustrasi air dalam kemasan 

SURYA.co.id | SURABAYA - Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) meminta regulasi perizinan penggunaan sumber air semakin diperlancar dan dipermudah.

"Sebab, kendalanya sejauh ini memang di perizinan sumber air kurang lancar terutama di daerah-daerah yang dekat pegunungan," ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Rachmat Hidayat, Senin (7/1/2019).

Dia mengungkapkan, memang sumber air yang bagus sebagai bahan baku air mineral dalam kemasan ialah yang dekat dengan pegunungan.

"Karena ya sumber air tanahnya juga bagus-bagus di sana. Nah, daerah yang punya kapasitas sumber air tanah yang bagus ialah di daerah Jawa," ungkapnya.

Bersamaan dengan momen politik di tahun ini, pihaknya berharap ke depannya regulasi maupun kebijakan terkait industri amdk tersebut kondisinya lebih kondusif lagi.

"Serta, rancangan sumber daya air juga kondusif untuk industri ini," terangnya.

Rachmat menambahkan, mesti tahu politik, konsumsi air minum dalam kemasan (amdk) di 2019 ini dinilai masih akan terus tumbuh yakni sekitar 10 persen atau double digit dibanding tahun lalu.

"Ekspektasi kami konsumsi air minum kemasan di tahun politik tetap tumbuh dan kondisinya juga kondusif dan damai. Kalau keadaannya seperti itu tentu akan berdampak positif terhadap konsumsi minuman itu sendiri," tambahnya.

Sebab menurutnya, keadaan kondusif dan damai itulah yang menjadi satu di antara faktor pendorong konsumsi air minum dalam kemasan.

Sementara itu, terkait imbas fluktuasi dollar pada beberapa waktu lalu, dikatakan Rachmat, tidak terlalu berimbas secara langsung.

"Ya packaging kami memang ada yang harus impor bahan bakunya karena kalau memakai bahan dalam negeri juga tidak cukup. Imbasnya, ya ada kenaikan tapi itu tidak secara langsung dan tak terlalu signifikan," pungkasnya.

Penulis: Arie Noer
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved