Rumah Politik Jatim

Tugas Besar PPP di Harlah ke 46, Menangkan Jokowi di Tengah Konflik Dualisme

Khusus untuk pilpres, tugas partai berlambang Kabah ini pun menghadapi tantangan tak mudah. Sebab, PPP hingga kini masih harus menghadapi konflik

Tugas Besar PPP di Harlah ke 46, Menangkan Jokowi di Tengah Konflik Dualisme
SURYAOnline/Bobby Constantine Koloway
Muhammad Romahurmuziy 

SURYA.co.id | SURABAYA – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memperingat Hari Ulang Tahun yang ke 46, Sabtu (5/1/2019). Di usia yang cukup dewasa kini, PPP memliliki sejumlah target penting. Di antaranya menaikkan kursi di pemilihan legislatif sekaligus memenangkan pasangan Calon Presiden Joko Widodo KH Ma’ruf Amin.

Khusus untuk pemilihan presiden, tugas partai berlambang Kabah ini pun menghadapi tantangan tak mudah. Sebab, PPP hingga kini masih harus menghadapi konflik dualisme yang berlarut hingga kini.

Konflik tersebut pun berimbas ke arah dukungan pilpres. Untuk diketahui, PPP di bawah kepemimpinan M Romahurmuziy (Romy) yang kini diakui Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Sedangkan PPP kepengurusan Humphrey Djemat mendukung rival Jokowi, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menanggapi hal ini, Sekretaris DPW PPP Jatim kubu Romy, Norman Zein Nahdi, menegaskan bahwa memenangkan Jokowi-Ma’ruf menjadi satu di antara agenda utama partainya.

”Untuk pilpres bukan lagi gas pol rem pol, tapi hanya gas pol,” kata Norman kepada Surya.co.id ketika dikonfirmasi di Surabaya, Sabtu (5/1/2019).

Pihaknya juga telah memetakan beberapa wilayah yang menjadi target pemenangan paslon capres nomor urut 01 ini. Di antaranya wilayah Tapal Kuda (Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi) hingga Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep).

”Kemarin (Pemilu 2014) Pak Jokowi kalah di daerah tersebut. Pada pemilu mendatang, kami telah bergabung mendukung Pak Jokowi, kami optimistis akan meraih hasil sebaliknya,” ujarnya optimistis.

Terkait masalah dualisme, pihaknya optimistis bahwa hal itu tak berpengaruh banyak. Sekalipun, ada beberapa konstituennya di akar rumput yang mengawatirkan konflik berkepanjangan tersebut.

”Sempat ada yang bertanya, namun tidak banyak. Mayoritas kader PPP solid membantu pemenangan di Pilpres,” katanya.

Ia lantas menyindir figur Humphrey Djemat yang ditunjuk menjadi Ketua Umum versi Muktamar Jakarta. Ia membandingkan dengan Romy yang dinilai lebih laik memimpin partai bernafas religius-Islam ini.

”Mas Romy gandengannya dengan PPP jelas. Beliau keturunan cucu dari putra dari M Tolchah Mansoer, pendiri IPNU dan anggota DPR-GR mewakili Partai NU sekaligus cucu Menteri Agama ketujuh KH M. Wahib Wahab. Kalau Pak Humprey, siapa?,” sindir Norman.

Oleh karenanya, banyak pengurus di PPP yang lantas mendukung kepemimpinan Romy.

”Kepengurusan kami diisi oleh orang lama yang sejak awal membersarkan PPP. Kalau kubu sebelah, kami justru tidak kenal karena banyak diisi orang baru,” katanya.

Agar masalah tidak semakin luas, pihaknya mengusulkan kepada DPP untuk memperingatkan kubu Humphrey agar tak lagi menggunakan nama PPP di setiap kegiatanya.

”Kubu mereka tidak laik untuk membawa nama PPP. Kalau mau berkegiatan partai, lebih baik menggunakan nama partai baru,” tegasnya.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved