Berita Magetan

Bupati Magetan Tawarkan Sasana Latihan ke Juara MMA, Begini Jawaban Suwardi Sang Becak Lawu

Bupati Magetan Suprawoto tawarkan Suwardi, juara Mixed Martial Arts (MMA) sebuah sasana tempat latihan sebagai sarana regenerasi atlet MMA Magetan

Bupati Magetan Tawarkan Sasana Latihan ke Juara MMA, Begini Jawaban Suwardi Sang Becak Lawu
surya/doni prasetyo
Bupati Magetan Suprawoto bersama Sang Mixed Martial Arts (MMA) berjuluk Becak Lawu Suwardi yang menjadi warga Kabupaten Magetan saat berada di pendopo Surya Graha, Kabupaten Magetan. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Bupati Magetan Suprawoto tawarkan Suwardi, juara Mixed Martial Arts (MMA) yang berjuluk Becak Lawu yang lahir dan besar di Magetan ini, sebuah sasana tempat latihan sebagai sarana regenerasi atlet MMA Kabupaten Magetan.

"Mas Suwardi ini salah satu putra terbaik Magetan, yang sudah membawa nama baik Magetan tidak saja di dalan negeri tapi juga manca negara. Berapa ratus juta kalau kita harus bayar setia kali nama Magetan disebut," kata Bupati Suprawoto saat menerima Suwardi, Kamis (28/12/2018) malam.

Juara Mixed Martial Arts (MMA) yang meniti karier dari menjadi tukang bakso, bekerja di bengkel, pemulung di Sidoarjo, kemudian pindah ke Bogor bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit hingga akhirnya masuk sasana MMA menjadi petarung profesional.

"Prestasi Mas Suwardi sebagai juara MMA yang terakhir memenangan kejuara MMA dengan petarung asal Philipina ini menjadi spirit generasi muda yang bercita cita meraih prestasi seperti Mas Suwardi ini," sambungnya.

Dikatakan Bupati, ada begitu banyak jalan untuk meraih prestasi dan sukses, tidak hanya lewat jalur akademik. Olahraga juga bisa, Suwardi salah satu bukti.

"Kami dari Pemkab menawarkan untuk membuat fighting camp, tempat latihan MMA untuk regenerasi, tapi ditolak Mas Suwardi. Katanya itu sangat sulit. Banyak yang punya kemampuan, tapi mental tidak bagus, ada yang bagus mental, tapi kemampuan sangat minim. Petarung MMA perlu kedua sisi itu, seimbang,"jelas Bupati Suprawoto.

Sementara Suwardi anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Giman-Tarmi ini, memulai debutnya dari seni beladiri pencak silat Setia Hati Terate, saat masih sekolah dasar.

Tapi karena waktu itu Suwardi kelahiran 1984 ini dipandang masih belum cukup umur, dan baru disahkan sebagai pendekar tahun 2000 silat saat dirinya lulus SMP.

"Karena himpitan ekonomi, saya pergi dari desa dengan mencoba berdagang bakso.keliling di Sidoarjo, kemudian pindah ke Bogor dan sempat menjadi pemulung dan buruh perkebunan," kata Suwardi kepada Surya di pendopo Kabupaten Magetan.

Latihan MMA, lanjut Suwardi, diikuti secara tidak sengaja saat mengantar teman sesama buruh perkebunan latihan di salah satu sasana figthing camp di wilayah Bogor.

"Ada pelatih yang tertarik melihat cara saya memukul sansak, kemudian saya ditawari latihan di sasana itu. Karena tidak punya biaya, latihan MMA ditempat itu dengan berhutang. Bayar setelah memenangkan pertarungan, begitu seterusnya sampai akhirnya bisa naik ke kejuaraan dan bisa memenangkan," ungkapnya.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved