Berita Malang Raya

Korupsi Lab FMIPA Universitas Negeri Malang, Terpidana: Saya Cuma Teri, Kakapnya Masih Bebas

Terpidana kasus korupsi Lab FMIPA Universitas Negeri Malang mengibaratkan jika dirinya hanyalah kelas teri, sementara yang kelas kakap masih bebas

Korupsi Lab FMIPA Universitas Negeri Malang, Terpidana: Saya Cuma Teri, Kakapnya Masih Bebas
surya/benni indo
Sutoyo saat akan masuk ke dalam mobil Kejari Kota Malang yang mengantarkannya ke Lapas Klas I Malang, Kamis (27/12/2018). 

SURYA.co.id | MALANG - Terpidana kasus korupsi Lab FMIPA Universitas Negeri Malang, Sutoyo, berbicara banyak saat ditangkap Kejaksaan Negeri Kota Malang, Kamis (27/12/2018). Ia mengibaratkan kalau dirinya hanyalah terpidana kelas teri, sementara kelas kakap belum dikenai tindakan hukum.

"Perkara yang kaitannya dengan Nazarudin, masa kaitannya dengan teri-teri ini, saya ini teri, Abdullah Fuad juga teri. Kakapnya dibiarkan saja. Siapa yang menikmati kerugian negara?" ujar Sutoyo yang tadinya mengajar sebagai dosen PPKn Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Kata Sutoyo, kasus yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin pasti menyentuh level pimpinan perguruan tinggi. Meski tak menyebutkan nama, Sutoyo menjelaskan ada dua orang yang sangat berperan aktif dalam kasus korupsi pengadaan alat Lab FMIPA Universitas Negeri Malang pada 2009 lalu.

"Saya kira aparat tahulah. Kasus Nazaruddin tidak mungkin level panitia pasti pimpinan. Jadi pimpinan perguruan tinggi itu siapa? Jenengan tahu kasus ini pada 2009," imbuhnya.

DPO 4 Bulan Kasus Korupsi Lab FMIPA, Dosen PPKn Universitas Negeri Malang (UM) Akhirnya Ditangkap

Dari dua orang yang diungkapkan, Sutoyo menyebutkan salah satunya adalah rektor bagian keuangan pada 2009.

Saat itu yang menjabat sebagai rektor bagian keuangan adalah Prof Rofi'udin yang menjabat sebagai Pembantu Rektor 2, sementara Rektor Universitas Negeri Malang adalah Prof Soeparno.

Saat ini, Rofi'udin menjabat sebagai rektor menggantikan Soeparno. Bahkan Rofi'udin baru saja terpilih kembali menjadi rektor untuk periode keduanya.

"Ya karena ini berhubungan dengan pengadaan, ya rektor bagian keuangan. Ya jenengan tahulah. Nanti dicek saja pada 2009 siapa. Saya kira beberapa waktu lalu juga disebutkan ada yang menerima Rp 500 juta dan Rp 300 juta," bebernya.

Ditanya terkait nama Rofi'udin dan Soeparno dalam keterlibatan kasus itu, Sutoyo tidak menjelaskan secara gamblang. Ia hanya mengatakan singkat kalau saat itu keduanya menjadi pimpinannya.

"Karena beliau pimpinan waktu itu mestinya iya," ujarnya.

Sutoyo sendiri mengaku tidak menerima uang Rp 10 juta yang selama ini dituduhkan kepadanya. Katanya, ia tidak pernah bertemu dengan orang yang mengantarkan uang itu.

"Saya katanya dapat aliran Rp 10 juta. Saya tidak tahu karena orang yang ngasih duit ke saya tidak pernah ketemu. Sekarang kondisinya sudah dimanipulasi. Saya tidak pernah menerima Rp 10 juta," tegasnya.

Sebelum dititipkan ke Lapas Klas I Malang, Sutoyo mengatakan kalau dirinya saat ini sedang menjalani putusan kasasi sambil nunggu PK. Ia berharap ada keadilan dalam kasus yang menjerat dirinya.

"Pada intinya ingin mendapatkan keadilan. Panitia itu kan bertujuh kenapa yang dikorbankan hanya dua orang. Harusnya panitia kolektif kolegial. Intinya hari ini saya menjalankan putusan. Mudah-mudahan kasus ini segera selesai," kata Sutoyo sebelum masuk ke mobil tahanan yang mengantarkannya ke Lapas Klas I Malang

Belum ada keterangan resmi dari pihak Universitas Negeri Malang terkait tudingan Sutoyo tersebut saat berita ini ditayangkan.

Penulis: Benni Indo
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved