Berita Ekonomi Bisnis

Cara Perum Jasa Tirta I Mengurangi Pembuangan Limbah Industri di Hilir Sungai Brantas

Perum Jasa Tirta (PJT) I berupaya untuk menekan pembuangan limbah industri di hilir sungai Brantas. Salah satunya dengan merancang sebuah komunitas.

Cara Perum Jasa Tirta I Mengurangi Pembuangan Limbah Industri di Hilir Sungai Brantas
SURYAOnline/sri handi lestari
Kepala Divisi Jasa ASA II PJT I Didik Ardianto. 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Perum Jasa Tirta (PJT) I berupaya untuk menekan pembuangan limbah industri di hilir sungai Brantas. Salah satunya dengan merancang sebuah komunitas industri peduli lingkungan disebut “Clean Industry Hub”.

Clean industry hub direalisasikan melalui kerjasama dengan banyak institusi baik dalam negeri maupun luar negeri, diantaranya dengan Balai Besar Sungai Brantas dan Ecoton, dengan salah satu perusahaan penyedia teknologi di bidang pengolahan limbah dan salah satu Universitas di Belanda.

“Kami sudah memetakan mana saja industri yang akan kami ajak bergabung. Tahap awa sekitar 20 hingga 25 industri yang ada di sepanjang hilir sungai Brantas yang akan ikut, ada dari industri kertas, penyedap rasa, beberapa Perusahaan Daerah Air Minum, industri tahu, UKM dan lain sebagainya,” kata Didik Ardianto, Kepala Divisi Jasa ASA II PJT I, didampingi Kepala Departemen Humas dan Informasi Publik PJT I, Inni Dian Rohani saat acara “Ngopi Bareng Perum Jasa Tirta I” di Surabaya, Kamis (20/12/2018).

Pada Minggu lalu, industri-industri tersebut telah dikumpulkan dan dilakukan survei tentang apa saja yang dialami serta apa saja kesulitan yang dirasakan dalam melakukan pengolahan limba produksi. Survei juga untuk mengetahui komitmen mereka dalam mewujudkan industri yang peduli terhadap lingkungan.

Dari pertemuan tersebut diketahui tiga problem dalam pengolahan limbah yang mereka keluhkan, yaitu soal mahalnya biaya dalam pengolahan limbah, peralatan atau instalasi pengolahan yang dimiliki sudah tua dan kuno serta kebutuhan teknologi karena tuntutan dari beberapa industri yang berstandar internasional cukup tinggi.

“Harapan kami, mereka ini akan menjadi embrio yang nantinya bisa menularkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada industri yang lain dna bagaimana mengolah limbah dengan baik dan sesuai aturan,” ungkap Didik.

Dari kajian yang dilakukan, akan disusun sebuah konsep dan solusi. Karena jalannya cukup panjang, maka waktu yang dibutuhkan dalam merancang konsep hingga merealisasikan diperkirakan sekitar 5 tahun.

“Tahun ini dimulai dengan insepsi, harapannya tiga hingga empat tahun bisa memiliki platform dalam mengendalikan kualitas air sungai. Ketika sudah muncul solusi, maka melalui hub ini bisa menyebar, harapn kedepan akan semakin banyak industri yang sadar lingkungan,” jelasnya.

Sejauh ini PJT I terus melakukan pemantauan kualitas air khususnya di sejumlah lokasi yang menjadi outlet pembuangan limba di sejumlah industri. Dari 100 lebih industri yang ada di sepanjang hilir sungai Brantas, ada sekitar 30 outlet pembuangan limbah industri yang selalu diawasi dan dilakukan pemantauan secara periodik.

Dari sisi kualitas air, memang ada peningkatan kualitas air dibanding beberapa tahun yang lalu, tetapi di waktu-waktu tertentu ada penurunan kualitas karena beberapa industri juga masih ada yang nakal dengan melakukan soft loading atau pelepasan limbah hasil produksi ke sungai, misalnya di awal musim hujan dan saat puncak musim kemarau.

"Untuk itu, penyadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan terus kami gerakkan,” tandas Didik.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved