Sambang Kampung Konstituen

Kampung Keripik Kesulitan Bahan Baku, Agustin Poliana: Kepercayaan Pasar Menjadi Taruhan

Keluhan tersebut disampaikan kepada Anggota DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana, saat blusukan ke Kampung Keripik Petemon Surabaya.

Kampung Keripik Kesulitan Bahan Baku, Agustin Poliana: Kepercayaan Pasar Menjadi Taruhan
SURYAOnline/nuraini faiq
Celeg PDIP untuk DPRD Jatim Dapil 1 (Surabaya) Agustin Poliana saat blusukan ke Kampung Petemon, Surabaya, Rabu (12/12/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pelaku ekonomi kerakyatan di Kota Surabaya akan terus berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan meningkatkan produksi mereka. Termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Keripik Kampung Petemon. Namun saat ini UMKM yang sedang tumbuh ini kesulitan bahan baku.

Keripik pisang dengan bahan baku pisang raja untuk diproduksi di Kampung Petemon Barat itu dibayangi sulitnya menemukan bahan baku pisang raja. "Kami kelabakan kalau kehabisan pisang raja," kata Susiati, perajin keripik pisang Kampung Petemon.

Keluhan tersebut disampaikan kepada Anggota DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana, saat Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Jatim dari PDIP ini blusukan ke Kampung Keripik Petemon, Rabu (12/12/2018).

Susiati bersama suaminya, Sasmoko, merintis dari nol usaha keripik pisang. Dikupas sendiri, digoreng sendiri, dan dijual serta ditawarkan ke pasar sendiri. Berjuang merebut pasar juga sendiri hingga akhirnya kini menembus pasar di Surabaya.

Mulai menyuplai agen di pusat oleh-oleh di Kenjeran hingga Wonokromo dan wilayah Surabaya lainnya. Kini juga telah merangsek memenuhi kebutuhan pasar di Gresik dan Sidoarjo.

"Beberapa agen kami suplai. Termasuk agen di Sidoarjo, Gresik, dan pusat jajan serta semua agen-agen besar. Alhamdulillah lumayan banyak," ucap Susiati.

Namun ada situasi sulit saat pelaku UMKM ini dibayangi kesulitan mendapatkan bahan baku. Pernah suatu ketika, sejumlah pasar di Surabaya tak tersedia pisang raja. Sasmoko pun mencari ke seluruh pasar tradisional dan pusat pisang di Surabaya. Namun tidak menemukan.

Padahal UMKM ini dituntut konsisten memproduksi saat pasar terus membutuhkan. Dalam sehari, dalam satu wilayah di Sidoarjo misalnya, harus dikirim 50 bal keripik jadi. Jika tidak terkirim, keberlangsungan produksi itu akan memengaruhi sentimen pasar.

Kalau sehari saja tidak produksi, maka peredaran keripik akan terkurangi. "Kesulitan bahan baku ini jangan sampai terjadi lagi," tambah Sasmoko.

Selama ini, UMKM keripik ini telah menggaet pelanggan dari para petani pisang. Melalui agen pisang raja itu, para petani mengirim hasil pertanian mereka ke agen tersebut. Jika konsisten, dalam seminggu perajin keripik pisang ini mampu menghasilkan produksi paling sedikit 100 kg keripik pisang.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved