Berita Surabaya

Evaluasi Kebakaran 17 Rumah di Kapasan Surabaya, Wali Kota Risma: Bronto Skylift 104 Harus Turun

Saat kejadian kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya, petugas damkar memang tidak terlihat membawa serta Bronto Skylift 104

Evaluasi Kebakaran 17 Rumah di Kapasan Surabaya, Wali Kota Risma: Bronto Skylift 104 Harus Turun
istimewa
Wali Kota Risma saat kunjungi lokasi kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya, Minggu (10/12/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya membuat Wali Kota Risma melakukan evaluasi. Evaluasi itu dilakukan Wali Kota Risma sudah bersama Dinas Pemadam Kebakaran (damkar) soal pemadaman api di lokasi padat penduduk itu, seperti yang ditanyangkan YouTube Bangga Surabaya, Senin (10/12/2018).

Dalam video itu Wali Kota Risma mengatakan kepada petugas damkar, seharusnya kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya bisa dipadamkan dari atas bangunan.

"Kalau tinggi, bisa kamu menembaknya dari atas. Justru kalau api besar nembaknya dari atas. Ini terakhir, saya tidak mau ada lagi! Ya," minta Risma.

Kebakaran 17 Rumah di Kapasan: Pemkot Surabaya Janji Bantu Korban hingga 7 Hari, setelah itu . . .

Saat evaluasi, Risma mengatakan kepada petugas damkar tidak perlu khawatir dan ragu menggunakan Bronto Skylift 104 untuk memadamkan api kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya dari atas bangunan.

"Mobilmu yang tinggi (bronto skylift) itu disiapkan untuk tekanan besar, mobil PMK itu di diciptakan dengan teori yang jauh lebih mungkin dari kendaraan biasa. Jadi kalau posisinya tinggi, ada angin dia kan berbunyi kalian gak usah takut itu sudah di dihitung sama dia (pembuat mobil). Gak usah ragu, gak usah eman-eman (jangan terlalu sayang), rusak tuku meneh wong digawe nyelamatkan orang, timbang ada korban kalau gini gimana? Tua-tua lagi korbannya (rusak beli lagi, karena dipakai menyelamatkan orang daripada ada korban gimana? Tua-tua lagi korbannya)," terangnya saat evaluasi.

Saat kejadian kebakaran 17 rumah di Kapasan Surabaya, petugas damkar memang tidak terlihat membawa serta Bronto Skylift 104 yang bisa digunakan untuk menyemprotkan air dari atas bangunan.

Terpisah, Humas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, M Fikser, menjelaskan Bronto Skylift 104 memang tidak diturunkan saat itu karena memang tidak memungkinkan.

Salah satu alasan yang Fikser sampaikan adalah, lantaran di kampung padat penduduk itu kabel Penerangan Jalan Umum (PJU) sangat semrawut dan tidak tertata di setiap gang.

"Banyak kabel, jadi mobil tidak turun. Sekaligus jalan atau akses masuk juga sangat kecil. Lalu ada lagi portal di atasnya ada pagar, mobil damkar yang besar akhirnya sulit masuk akhirnya kita harus bongkar dulu," kata Fikser saat dikonfirmasi.

M Fikser melanjutkan, namun setelah kejadian ini Wali Kota Risma meminta kepada petugas damkar untuk tetap menurunkan Bronto Skylift 104 meter apapun keadaannya.

"Hasil evaluasinya seperti itu. Jadi mobil itu harus diturunkan persoalan nanti mau digunakan atau tidak, belakangan," kata Fikser menirukan Wali Kota Risma.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved