PSSI

Oknum Pengurus PSSI Diminta Tobat Nasuha agar Match Fixing di Indonesia Tak Ada Lagi

Kasus match fixing atau pengaturan skor yang terjadi di sepak bola Indonesia, menyeret beberapa nama.

Oknum Pengurus PSSI Diminta Tobat Nasuha agar Match Fixing di Indonesia Tak Ada Lagi
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Edy Rahmayadi ketika mendaftarkan diri sebagai calon gubernur Sumatera Utara ke KPU Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Senin (8/1/2018). Selain menjadi Gubernur, dia juga menjabat Ketua Umum PSSI. 

SURYA.co.id | MALANG - Kasus match fixing atau pengaturan skor yang terjadi di sepak bola Indonesia menyeret beberapa nama di PSSI'>Exco PSSI.

Salah satunya anggota PSSI'>Exco PSSI, Hidayat yang akhirnya mundur dari jabatannya.

Menurut Bambang Suryo Manajer Metro FC yang dulunya merupakan runner match fixing, dalam belenggu pengaturan skor ini tak sedikit melibatkan oknum dari orang PSSI.

Untuk itu, bagi Bambang apabila sepak bola ingin maju, maka harus ada perombakan pengurus di dalam PSSI.

Sebab, selama Bambang melancarkan kasus pengaturan skor, pengurus yang seharusnya memberantas kasus ini justru terlibat di dalamnya.

"Saya rasa harus ada perubahan di dalam tubuh PSSI, terutama orang-orang lama dan oknum lama yang masih bermain-main," kata Bambang Suryo kepada SURYA.co.id (surabaya.tribunnews.com), Jumat (7/12/2018).

Apabila ada perubahan dalam tubuh PSSI, Bambang menilai sedikit banyak kasus pengaturan skor akan berkurang.

Namun, itu semua juga harus ditunjang dengan pemantauan terhadap keuangan tim peserta kompetisi baik di Liga 1 dan Liga 2.

"Mungkin kompetisi tahun depan sudah akan berkurang, kalau hilang seluruhnya itu tidak mungkin. Tapi kalau memang mau bersih, jangka waktu paling 2 sampai 3 tahun mungkin sudah bersih asal dengan catatan manajemen tim," jelasnya.

Tak hanya meminta ada perubahan dalam kepengurusan PSSI, Bambang juga berpesan pada para mafia dan oknum yang kini masih melakukan pengaturan skor untuk segera menghentikan kasus terlarang itu.

"Yang masih bermain main tolonglah segera tobat, tobat nasuha dan tobat nasional, takutlah dengan azab dan takutlah dengan kisah nyata yang ada di televisi itu. Sudahlah. Sekalipun nanti saya kejadiannya seperti Munir, saya akan mati secara nasuha dan jihad saya untuk sepakbola. Saya tidak main-main. Saya sudah bicara pada anak istri saya," tambahnya.

Penulis: Dya Ayu
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved