BJM Optimis Pasar Perumahan Akan Tetap Tumbuh Positif Meski Ada Keluhan Lesu

Penjualan produk baja oleh PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTM), anak perusahaan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) di tahun 2018 ini ikut tumbuh.

BJM Optimis Pasar Perumahan Akan Tetap Tumbuh Positif Meski Ada Keluhan Lesu
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Andi Soesanto (tiga dari kiri), Direktur BJM dalam public expose yang digelar Kamis (6/12/2018) di kantor PT GDS, kawasan Margomulyo, Surabaya. 

SURABAYA, SURYA - Penjualan produk baja oleh PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTM) sebagai anak perusahan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) di tahun 2018 ini ikut mengalami kenaikan seperti induknya. Perusahaan yang bergerak dibidang industri baja untuk pasar domestik retail, terutama proyek perumahan ini, masih optimis akan tetap mengalami peningkatan di tahun 2019 meski tahun tersebut sedang berlangsung pesta politik. 

"Karena pasar kami adalah proyek pengembangan perumahan. Berupa produk baja tulangan atau besi polos yang utamanya digunakan untuk perumahan kecil dan menengah," ungkap Andi Soesanto, Direktur BJM dalam public expose yang digelar Kamis (6/12/2018) di kantor PT GDS, kawasan Margomulyo, Surabaya.
Perseroan yang melantai di bursa efek dengan kode BTON itu, di tahun 2018 ini telah mencatatkan pendapatan dari penjualan senilai Rp 97,2 miliar hingga akhir Oktober 2018. Nilai itu mengalami peningkatan dari target hingga akhir tahun 2018 yang mencapai Rp 88 miliar.

"Sama dengan induk kami, sudah melebihi target. Tahun 2019 target dinaikkan, menjadi Rp 100 miliar untuk penjualannya," tambah Andi.

Diakui Andi, kebutuhan rumah kecil dan menengah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sehingga pasar dari produk mereka akan selalu ada. Meski saat ini, pengembang perumahan sedang mengeluh mengalami perlambatan.

"Tapi pastinya permintaan rumah selalu ada. Pasar rumah kecil dan menengah selalu besar, dan bertambah terus dengan trend peningkatan penduduk," jelas Andi.

Namun kendala yang ada, adalah bahan baku serta ketersedian produk awal harus tergantung dengan induknya, PT GDS.

"Resiko pasokan bahan baku, ketergantungan pasokan bahan baku dari perusahaan afiliasi karena karakteristik mesin perseroan yang terbatas," ungkap Andi.

Saat ini permintaan juga besar, namun karena keterbatasan pihaknya belum bisa melakukan pengembangan. Bahkan jaringan distribusi produk yang sebelumnya ada 10, kini hanya tinggal 4 distributor. Hal ini tak lepas dari pasokan yang terbatas.

Kendala lainnya adalah persaingan di pasar domestik yang juga ketat. Meski pangsa pasar produk BJM kecil, pihaknya tetap agresif mengembangkan pasar baru untuk tetap bertahan.

"Terutama di wilayah Indonesia Timur, yang memang masih belum banyak yang masuk atau mensuplai terkait pengembangan rumah kecil dan menengah," jelas Andi.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved