Berita Lifestyle

Pria di Kota Surabaya Rentan Alami Disfungsi Ereksi, Ini Penyebabnya

Pria di perkotaan besar seperti Surabaya rentan terkena Disfungsi Ereksi (DE). Ini penyebabnya

Pria di Kota Surabaya Rentan Alami Disfungsi Ereksi, Ini Penyebabnya
pixabay
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pria di perkotaan besar seperti Surabaya rentan terkena Disfungsi Ereksi (DE).

Hal ini diungkapkan Dokter Susanto Suryaatmadja Sp And, dokter spesialis andrologi yang berpraktek di RSUD Dr Soetomo Surabaya dan RS Adi Husada.

Ia mengatakan, kondisi di Surabaya prevalensi penderita DE semakin lama semakin tinggi karena faktor stresnya cukup tinggi.

"Faktor tuntutan ekonomi yang tinggi membuat kemungkinan disfungsi ereksi semakin besar," ungkapnya dalam edukasi Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi di Hotel Four Point Sheraton, Rabu (5/12/2018).

Ia mengungkapkan pola hidup di kota besar seperti di Surabaya ini juga banyak yang salah.

Mayoritas masyarakat tidak memperhatikan proporsi kolesterol yang dikonsumsi tiap harinya.

"Misal pagi soto, siang makan nasi padang, malam makan kepiting semuanya kolesterol dan kemudian punya faktor genetik kolesterol tinggi. Resikonya terkena DE semakin tinggi," ujarnya.

Kesaksian Korban Selamat Pembantaian di Nduga Papua, Sempat Digiring dengan Tangan Terikat

Kisi-kisi Ujian Nasional dan USBN 2019 Resmi Dirilis, Yuk Buruan Unduh di Sini!

Jelang Libur Panjang, Jangan Lupa Susun Itinerary saat Berwisata, Ini Manfaatnya

Menurutnya, kesadaran pasien terhadap penyebab DE dan pentingnya berkonsultasi dengan dokter merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengobatan DE.

"Disfungsi ereksi ini multifaktorial, jika harus konsultasi maka mereka harus antri dan berbayar. Akhirnya masyarakat cenderung memperbaiki DE di pinggir jalan," ungkapnya.

Dokter Susanto Suryaatmadja Sp And dalam edukasi Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi di Hotel Four Point Sheraton, Rabu (5/12/2018).
Dokter Susanto Suryaatmadja Sp And dalam edukasi Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi di Hotel Four Point Sheraton, Rabu (5/12/2018). (surya/sulvi sofiana)

Kalau di Surabaya, lanjutnya,biasanya masyarakat lebih memilih membeli jamu di pinggir-pinggir jalan tempat jual jamu.

Padahal pengobatan paling baik yaitu konsultasi dan pengobatan dengan mencari penyebabnya.

"Banyak pasien di tempat saya yang malu, ada yang pesan kalau ketemu di jalan sama istri ya jangan sampai kelihatan kenal," kenangnya.

Iapun menegaskan konsultasi harus dilakukan pada dokter tersumpah sehingga tidak perlu khawatir akan bocornya rahasia pasien.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved