citizen reporter

Bengawan Solo Meluap di Lamongan, Saatnya Panen Ikan Mabuk

Setiap kali debit air Bengawan Solo naik, warga Kecamatan Laren, Lamongan, panen ikan. Banyak ikan mabuk di permukaan air. Warga tinggal menyeroknya.

Bengawan Solo Meluap di Lamongan, Saatnya Panen Ikan Mabuk
dokumen pribadi
Debit air Bengawan Solo yang tiba-tiba naik membuat banyak ikan mabuk. Itu saat sebagian warga Lamongan panen ikan. 

Meningkatnya debit air Bengawan Solo di Lamongan bukan hanya dianggap sebagai musibah karena berpotensi banjir. Itu juga sebagai rezeki karena banyak ikan mabuk.

Ikan mabuk itu mengambang di permukaan Bengawan Solo. Itulah saat panen setahun sekali bagi warga Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan.

Air Bengawan Solo yang keruh membuat warga Lamongan panen ikan mabuk.

Ikan-ikan yang menghuni sungai itu mabuk dan terempas ke pinggiran sungai, mulai dari ikan kecil sampai yang berukuran cukup besar, Kamis (29/11/2018). Warga sekitar menyebutnya dengan istilah oyang-oyang atau ikan ngumbo.

Hal ini dimanfaatkan oleh warga sekitar aliran Bengawan Solo untuk berbondong-bondong menangkap ikan di pinggir-pinggir sungai. Dalam satu hari, ada ratusan orang turun ke sungai menangkap ikan saat oyang-oyang.

Aktivitas paling ramai di malam hari. Sementara saat siang hari, jumlahnya hanya beberapa. Hal itu karena saat malam ikannya lebih banyak terutama yang berukuran lebih besar.

Surya (23) warga Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, juga tak ingin ketinggalan momen yang terjadi setiap setahun sekali itu. Ia sudah menyiapkan begitu banyak bekal untuk bersiap mendapatkan ikan, mulai dari tombak, serok, hingga timba.

“Fenomena ini dikarenakan debit air dari hulu naik, lalu air Bengawan Solo menjadi naik secara drastis dan akhirnya warna air menjadi keruh kecokelat-cokelatan. Itu yang menyebabkan ikan-ikan mabuk,” ungkapnya.

Jenis-jenis ikan yang ditangkap antara lain patin, mujair, gabus, bader, hingga udang. Saat malam, jumlah ikan lebih banyak.

“Ikan-ikan yang kecil saya konsumsi sendiri. Ikan-ikan yang besar akan saya jual ke warga,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Ali Muji, warga Desa Gampangsejati menangkap ikan menggunakan jala. Tentu ikan yang didapatkan pun lebih banyak meskipun hanya ikan-ikan kecil.

Ada macam-macam alat penangkap ikan yang digunakan para pencari ikan, bahkan ada yang menggunakan setrum listrik. Beberapa orang bahkan ada yang menangkap ikan dengan tangan kosong.
Itu saat yang ditunggu warga sekitar yang sudah hafal ritme cuaca.

Tak hanya bapak-bapak atau akan laik-laki, tetapi banyak juga wanita yang langsung turun ke Bengawan Solo untuk mendapatkan ikan menggunakan serok.

Fenomena ini pun dijadikan tontonan menarik. Momen oyang-oyang atau ikan ngumbo ini berlangsung dari pagi hari hingga pukul 21.00. Setiap orang rata-rata mendapatkan 3 kg sampai 5 kg ikan, bahkan ada yang mendapatkan sampai 8 kg.

Oyang-oyang akan berakhir ketika air Bengawan Solo sudah tidak keruh lagi. Biasanya itu membutuhkan waktu 1-2 hari hingga air kembali jernih setelah penangkapan ikan.

Auliyau Rohman
Mahasiswa Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
auliyaurohman7@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved