Liputan Khusus Utang Online

Utang Online via Fintech, Arum Stres Diteror Penagih Utang

Saat ini marak tawaran utang online via fintech. Tapi jangan sembarangan, bisa-bisa stres seperti Arum karena diteror penagih utang terus menerus.

Utang Online via Fintech, Arum Stres Diteror Penagih Utang
ist
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA – Arumningtyas (26) hanya bisa pasrah menghadapi tagihan utang online dari berbagai aplikasi financial technology (fintech) yang ia miliki. Setiap hari dalam beberapa minggu terakhir, ia menerima “teror” dari para penagih utang perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi.

Bukan sekadar satu, dua, atau tiga fintech yang pernah ia manfaatkan untuk berutang, melainkan 35!

Dari jumlah itu, Arum tak sanggup membayar utang di 14 fintech. Jika ditotal, gabungan utangnya dan suami, sekitar Rp 60 juta. Itu belum termasuk bunga yang tiap hari selalu bertambah.

“Dulu waktu awal ditagih, stres. Sekarang rasanya sudah pasrah,” kata warga Kecamatan Bubutan, Surabaya itu, pekan lalu.

Arum merasa stres karena penagih utang juga meneror orang-orang yang ada di kontak telepon selularnya. Ia tak tahu bagaimana para penagih itu bisa mendapat kontak tersebut. Saat awal mendaftar, ia merasa tak pernah memberikan nomor-nomor telepon itu.

“Hanya nomor darurat yang saya berikan. Itu pun cuma satu,” tambahnya.

Mereka, kata dia, juga tak henti-hentinya menghubungi telepon kantor sang suami, serta telepon kantor tempat Arum pernah bekerja. Selain stres, ia juga merasa malu dengan teman-temannya akibat kejadian tersebut. Agar edikit bebas dari “teror”, ia memilih untuk mengganti nomor telepon.

Ibu rumah tangga ini pertama kali kenal aplikasi pinjam uang secara online via fintech dari teman-temannya April lalu. Setelah tidak bekerja, ia membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar arisan yang nilainya Rp 300.000 per pekan.

Utang pertamanya hanya senilai Rp 500.000. Jangka waktu pembayaran tujuh hari dan bunganya hampir 25 persen. Seingat Arum, saat itu ia harus membayar utang Rp 615.000. Dari pengalamannya, penetapan besaran bunga berbeda-beda tiap fintech.

Ketika harus membayar utang di fintech pertama kali itu, Arum bilang sedang tak ada uang. Ia pun mengunduh aplikasi fintech lain untuk meminjam uang lagi. Dana tersebut dipakai untuk menutup utang yang pertama. Gali lubang-tutup lubang. Begitu seterusnya hingga ia berutang pada puluhan fintech.

Halaman
123
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved