Berita Kediri

Cara Penambang Pasir Lereng Kelud Antisipasi Gesekan Penambang Tradisional dengan Penambang Mekanik

Ribuan warga yang terkait kegiatan penambangan pasir di kawasan Lereng Gunung Kelud menggelar rapat akbar.

Cara Penambang Pasir Lereng Kelud Antisipasi Gesekan Penambang Tradisional dengan Penambang Mekanik
SURYAOnline/didik mashudi
Ribuan penambang pasir di kawasan Lereng Gunung Kelud menggelar pertemuan akbar di aliran Sungai Ngobo, Selasa (27/11/2018). 

SURYA.co.id | KEDIRI - Ribuan warga yang terkait kegiatan penambangan pasir di kawasan Lereng Gunung Kelud menggelar rapat akbar. Kegiatan ini dilakukan di tepian aliran Sungai Ngobo, kawasan Perkebunan Ngrangkah Sepawon, Kabupaten Kediri, Selasa (27/11/2018).

Para peserta rapat akbar ini merupakan para penambang pasir tradisional, kuli angkut, sopir truk serta pedagang yang berjualan di sekitar lokasi penambangan. Jumlah peserta rapat diperkirakan mencapai ribuan.

Aktivitas penambangan pasir di lereng Gunung Kelud ini berlokasi di wilayah Kecamatan Plosoklaten dan Puncu. Kegiatan penambangan pasir ini yang memberikan nafkah bagi warga sekitar.

Rapat akbar dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya benturan antara penambang pasir tradisional dengan penambang pasir dengan peralatan mekanik.

Dua hari sebelumnya penambang pasir tradisional nyaris bentrok serta mengusir alat berat yang dibawa masuk ke areal penambangan.

Tubagus, salah satu penambang tradisional menyebutkan, hasil rapat akbar telah menyepakati pembentukan Aliansi Masyarakat Penambang Pasir Kelud.

"Aliansi ini merupakan gabungan dari paguyuban para penambang pasir yang telah ada di Lereng Kelud," ungkapnya.

Namun untuk tindaklanjut ke depan serta menghimpun aspirasi para penambang telah disebarkan sekitar 4.000 lembar isian poling.

"Baru sebagian yang masuk, kami tunggu sampai akhir pekan," jelasnya.

Dari hasil poling bakal ditentukan langkah selanjutnya untuk membuatkan badan hukum untuk Aliansi penambang pasir. Termasuk melakukan hearing dengan anggota dewan.

"Kami akan bertindak sesuai dengan ketentuan supaya kegiatan penambang tradisional ini dapat hidup," tambahnya.

Upaya itu dilakukan sekaligus menghindari terjadinya benturan dengan pihak penambang mekanik. Karena telah beberapa kali terjadi konflik antara penambang tradisional dengan penambang mekanik.

Kegiatan penambangan pasir ini telah menghidupi ribuan penduduk mulai pencari pasir, kuli angkut, sopir truk sampai pemilik warung. Sehingga warga resah setiap kali ada upaya memasukan alat berat ke lokasi penambangan.

"Satu alat berat beckhoe beroperasi satu jam saja sama dengan menghilangkan tenaga sekitar 18 orang. Kami khawatir alat berat menggusur pekerjaan kami," tegasnya.

Kegiatan rapat akbar para penambang pasir ini juga dihadiri aparat Muspika Kecamatan Plosoklaten dan Puncu. Termasuk puluhan personel kepolisian yang mengamankan di lokasi rapat.

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved