Khofifah Ingin Dirikan Shelter Pekerja Migran Jatim di Hongkong

Gubernur Jatim terpilih periode 2019-2024, Khofifah Indar Parawansa bertekad membangun shelter untuk buruh migran Indonesia di Hongkong

Khofifah Ingin Dirikan Shelter Pekerja Migran Jatim di Hongkong
surabaya.tribunnews.com/fatimatuz zahro
Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024 Khofifah Indar Parawansa bertemu dan dialog dengan para buruh migran Indonesia (BMI) Hong Kong, di bilangan Quarry, Hong Kong, Senin (26/11/2018). 

SURYA.co.id | HONG KONG - Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024, Khofifah Indar Parawansa bertekad untuk bisa membangun shelter untuk buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong.

Hal itu tercetus setelah Khofifah bertemu para BMI Hong Kong, di bilangan Quarry, Hong Kong, Senin (26/11/2018).

Dalam forum itu, Khofifah berdialog gayeng dengan sejumlah tenaga migran yang banyak datang dari Jawa Timur. Terutama wilayah mataraman, Malang, dan sejumlah BMI dari beberapa wilayah di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, para buruh migran menyampaikan keluhannya selama menjadi tenaga migran di Hongkong.

"Memang dibandingkan negara lain, tenaga migran di Hong Kong ini mendapatkan sejumlah fasilitas yang menguntungkan, seperti dapat libur sehari dalam seminggu, otomatis kenaikan gaji 100 dolar Hong Kong pertahun, dan juga ada aturan setiap lima tahun harus dapat bonus yang cukup besar," kata Khofifah pada Surya.

Namun sayangnya dengan kebijakan itu, dampak negatif yang mereka rasakan adalah banyaknya pemutusan kerja sepihak oleh user, khususnyan terhadap tenaga migran yang sudah bekerja di atas lima tahun.

Masalahnya, banyak kasus yang terjadi tenaga migran Indonesia diputus kontrak oleh user kerap pada tengah malam.

"Tiba-tiba tengah malam diputus kerja, disuruh mengambil semua barang-barangnya saat itu juga. Nah yang semacam ini kan ya kasihan. Saat ini shelter atas nama pemprov Jatim atau Jateng dan wilayah lain itu belum ada. Maka saya ingin membuat shelter itu di Hong Kong," kata Khofifah yang juga Ketua PP Muslimat NU ini.

Kalaupun ada Konsulat Jenderal Republik Indonesia, tidak semua bisa memiliki akses lansung, terutama saat in time terjadi masalah pada migran. Selama ini, para pekerja migran cukup sering meminta bantuan Muslimat NU Hongkong saat terjadi kasus yang menimpa mereka.

"Maka mereka ingin agar shelter ini bukan hanya mengadvokasi saat ada masalah. Tapi juga komunikasi dengan keluarganya," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved