Berita Surabaya

27 Ribu IKM di Jatim Disiapkan untuk Pemasaran Digital

Sebanyak 27 ribu Industri Kecil Menengah (IKM) ditargetkan untuk siap menerjang pemasaran digital dalam tempo jangka panjang.

27 Ribu IKM di Jatim Disiapkan untuk Pemasaran Digital
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Kepala Disperindag Jatim Drajat Irawan dan Duta Aku Cinta Produk Indonesia (ACI) berfoto bersama dalam kegiatan Gebyar Cinta Produk Indonesia di Surabaya, Jumat (16/11/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebanyak 27 ribu Industri Kecil Menengah (IKM) ditargetkan untuk siap menerjang pemasaran digital dalam tempo jangka panjang.

Untuk setahun ke depan, target tersebut dimulai dengan penyiapan 1.294 IKM terpilih.

Langkah itu dimulai dengan pembekalan sekitar 100 pelaku IKM dalam kegiatan Gebyar Cinta Produk Indonesia di Surabaya, Jumat (16/11/2018).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Drajat Irawan mengatakan, pembekalan tersebut akan berjalan seiring waktu.

Setelah pembekalan hari itu, akan digelar pembekalan-pembekalan lain dengan jumlah pelaku IKM yang lebih banyak. Pembekalan menghadirkan mentor dari akademisi, analis pasar digital, dan penyedia marketplace.

"Ini strategi membuka peluang pasar. Dengan jaringan di marketplace, jangkauan pasar lebih luas lagi. Sekaligus implementasi dari industri 4.0," kata Drajat, usai kegiatan.

IKM di Jatim, kata dia, punya peluang besar untuk menguasai pasar dalam negeri lewat pemasaran digital. Pasalnya, sumbangan perdagangan Jatim untuk pasar nasional mencapai 20,4 persen alias sekitar seperlima dari total pasar yang ada. Itu ditunjang dengan perdangangan Jatim yang pada semester I/2018 tumbuh 6,73 persen. Lebih tinggi dari pertumbuhan perdangangan nasional 5,09 persen.

Digital Management and Content Marketing Analysis, Michael Sugiharto mengatakan, penjualan produk IKM saat ini lebih mudah dibanding sebelumnya. Tersedianya berbagai pilihan marketplace juga menunjang hal tersebut.

Pelaku IKM saat ini, kata dia, menghadapi masalah lain yang lebih mendasar. Yakni kurangnya kepercayaan diri.

"Kurangnya kepecayaan diri sama produknya, kurang percaya diri dengan apa yang sedang dikerjakan, dan kurang yakin bisa tidaknya industri tersebut menjadi tulang punggung keluarga," terangnya.

Halaman
123
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved