Female

Mengenal Corak Batik Khas Lamongan, Singo Mengkok

Galeri Paviliun House of Sampoerna, bekerjasama dengan Komunitas Batik Jatim (Kibas) dengan memunculkan corak khas batik Lamongan, Singo Mengkok.

Mengenal Corak Batik Khas Lamongan, Singo Mengkok
surya.co.id/habibur rohman
Pengunjung mengamati pameran batik khas Lamongan, Singo Mengkok. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tak mudah mendapatkan ciri khas budaya batik yang ada di suatu daerah. Ini yang coba diangkat Galeri Paviliun House of Sampoerna, bekerjasama dengan Komunitas Batik Jatim (Kibas) dengan memunculkan corak khas batik Lamongan yang di zaman dulu pernah populer, yakni Singo Mengkok.

Ada 30 koleksi batik yang akan dipamerkan dalam pameran batik mulai 16 November hingga 15 Desember mendatang.

Ketua Kibas, Lintu Tulistiyantoro menuturkan, batik Singo Mengkok adalah motif yang pernah dibuat dan jadi ciri khas masyarakat Sendang di Lamongan. Namun seiring perubahan zaman, motif batik ini mulai hilang dan dilupakan masyarakat Lamongan.

“Ada beberapa artefak yang menunjukkan Singo Mengkok sebagai motif batik. Namun artefak ini bukan dalam bentuk batik, tapi berupa gamelan. Artefak ini ada di area pemakaman Sunan Drajat,” jelasnya di House of Sampoerna, Rabu (14/11/2018).

Ini yang kemudian coba dimunculkan masyarakat Lamongan, dengan mengangkat motif ini untuk batik. Adapun motif Singo Mengkok ini adalah perpaduan budaya lokal dan Tiongkok, karena mirip dengan hewan mitologi Kilin.

Kilin adalah hewan dengan badan seperti kijang, namun berkepala naga. Dengan penggambaran motif seperti ini, maka bagi masyarakat Lamongan, Singo Mengkok dipercaya mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan di daerahnya.

“Ini sekarang yang dibuat dan menjadi ciri khas batik Lamongan,” urainya.

Dalam penerapan motif Singo Mengkok pada batik, bentuk badan kijang dan kepala naga tetap disematkan pada kain.

Hanya saja, penggambaran motif Singo Mengkok ditambah dengan sayap. Ini bermakna bahwa hewan ini bisa berada di antara langit dan bumi atau menunjukkan pengayoman. Motif ini lalu dipadu dengan warna batik daerah pesisiran, yang identik dengan warna cerah seperti merah.

“Dari beberapa penuturan orangtua, Singo Mengkok tak mudah untuk digambarkan dalam batik. Orang yang ingin menggambar Singo Mengkok harus bisa memvisualkan wujud hewan mitologi ini dengan benar, misalkan jumlah kuku kaki, sehingga harus ritual lebih dulu seperti puasa,” paparnya.

Sedangkan Manager House of Sampoerna, Rani Anggraini mengutarakan, adanya pameran ini sebenarnya untuk mengomunikasikan warisan budaya pada generasi muda.

Dengan menampilkan motif langka Singo Mengkok ini, maka generasi saat ini tak hanya menjadikan batik sebagai tekstil atau pakaian saja. Tapi lebih dari itu, generasi muda bisa memahami makna filosofi dari batik yang dikenakan, sehingga bisa menghargai batik.

“Makanya, dengan pameran itu, kami berharap ribuan pengunjung yang datang bisa teredukasi dan tahu tentang motif khas batik Lamongan dan daerah lain,” pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved