Berita Bangkalan Madura

Bangkalan Tak Punya Izin Penyimpanan Limbah B3, Limbah Puskesmas Blega Tertinggi 2 Kuintal Sebulan

Kepala Dinas Lingkungam Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan Ishak Sudibyo mengungkapkan, limbah B3 memerlukan wadah atau kontainer khusus untuk disimpan.

Bangkalan Tak Punya Izin Penyimpanan Limbah B3, Limbah Puskesmas Blega Tertinggi 2 Kuintal Sebulan
surya/ahmad faisol
Bayi berkelamin laki-laki dengan tulisan Zainul di lengan kirinya ditemukan warga Desa Lombang Dajah, Kecamatan Blega, dan dirawat di Puskesmas Blega,Selasa (10/10/2017). Puskesmas Blega disebut penghasil limbah medis tertinggi se-Bangkalan. 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Limbah medis yang dihasilkan dari pembuangan suatu aktivitas medis di lingkungan rumah sakit, puskesmas, klinik-klinik kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah medis meliputi jarum suntik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, hingga sisa patologi dari jaringan tubuh yang terbuang dari proses bedah atau otopsi.

Kepala Dinas Lingkungam Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan Ishak Sudibyo mengungkapkan, limbah B3 memerlukan wadah atau kontainer khusus untuk penyimpanan sebelum diolah dengan sistem insinerasi atau pembakaran sampah bertemperatur hingga 1.000 derajat celcius.

"Penghasil limbah B3 wajib melakukan penyimpanan limbahnya karena tak mungkin langsung diambil pihak ketiga," ungkapnya, Rabu (14/11/2018).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengolahan Limbah B3 disebutkan penyimpanan limbah B3 maksimal selama 90 hari.

Ia menjelaskan, sejauh ini para penghasil limbah B3 seperti RSUD Syamrabu dan 22 puskesmas di Kabupaten Bangkalan memang memasrahkan kepada pihak ketiga untuk proses pengolahan sampah medis.

Kendati kerjasama dengan pihak ketiga dibenarkan undang-undang, lanjutnya, para penghasil limbah B3 diwajibkan pula mempunyai tempat penyimpanan karena tidak langsung diangkut pihak ketiga.

"Belum ada puskesmas yang punya izin penyimpanan. Sebenarnya sudah difasilitasi Dinas Kesehatan untuk proses perizinannya. Namun, hingga saat ini kok belum (izinnya)," katanya.

Baru-baru, DLH Kabupaten Bangkalan telah menggelar Sosialisasi Limbah B3 dan Tata Cara Perijinannya di Hotel Ningrat, Senin (12/11/2018).

Ishak menambahkan, sosialisasi itu sebagai upaya memberikan gambaran dan pemahaman kepada para penghasil limbah B3 agar bisa mengolah limbahnya dengan baik.

"Sehingga mampu mengurangi bahkan menghentikan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan," pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan Sudiyo mengungkapkan, pihaknya telah mengusulkan namun hingga saat ini belum ada surat keputusan.

"Kami akan cek lagi karena memang menjadi atensi kami. Selain karena kebutuhan, kami tidak akan menabrak regulasi," ungkapnya.

Beradasarkan catatan Dinkes Bangkalan, rata-rata limbah medis yang dihasilkan 22 puskesmas berkisar antara 10 Kg hingga 20 Kg per bulan.

"Hanya Puskesmas Blega dengan limbah mencapai 2 kuintal per bulan atau 5 Kg per hari," pungkasnya.

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved