Smart City Jawa Timur

Modal Desa Prestasi Dunia, Konsep Smart City Banyuwangi Lebih Spesifik Jadi Smart Kampung

Di saat daerah lain sibuk menjadi Smart City, Banyuwangi justru memilih menggarap lebih dalam lagi, yakni Smart Kampung

Modal Desa Prestasi Dunia, Konsep Smart City Banyuwangi Lebih Spesifik Jadi Smart Kampung
surya/haorrahman
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Di saat daerah lain sibuk menjadi Smart City, Banyuwangi justru memilih menggarap lebih dalam lagi, yakni Smart Kampung.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan Smart Kampung merupakan program pengembangan desa terintegrasi yang memadukan antara penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berbasis serat optik, untuk mendekatkan dan peningkatan kualitas pelayanan ke publik, kegiatan ekonomi produktif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan, serta mengelola sumber daya desanya secara efektif dan efisien.‎

Berikut petikan wawancara mengenai konsep Smart Kampung tersebut

Mengapa Anda memilih Smart Kampung?

Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Pulau Jawa, mencapai 5.700 kilometer persegi. Jarak desa ke pusat kota di Banyuwangi bisa sangat jauh. Ada desa yang harus menempuh tiga jam untuk ke pusat kota. Itu membuat pelayanan publik banyak memakan biaya bagi warga.

Dengan Smart Kampung, urusan itu diselesaikan di tingkat desa. Karena itu dengan jaringan TIK yang kuat yang berjalan adalah datanya, bukan orangnya. Saat ini sudah 172 desa Smart Kampung, termasuk desa yang cukup jauh dari pusat kota seperti di Kecamatan Genteng, Muncar, Glenmore, Licin, Wongsorejo, dan lainnya.

Warga desa yang akan melakukan pengurusan surat administrasi kependudukan, kini cukup datang ke kantor desa atau kelurahan karena desa sudah diberi kewenangan verifikasi data penduduk. Mereka tidak perlu lagi datang ke pusat kabupaten.

Mengapa tidak Smart City saja, seperti daerah lainnya?

Pusat sempat meminta kami untuk mengganti Smart Kampung menjadi Smart City, agar seragam karena akan diikutkan lomba. Namun kami menolak, tidak usah diikutkan lomba tidak masalah. Karena bukan lomba tujuan kami. Inti dari Smart Kampung adalah pemberdayaan masyarakat desa.

Semua fokus pada Smart City, padahal banyak permasalahan yang ada di desa. Kota telah memiliki infrastruktur teknologi yang memadai, namun desa tidak. Apabila desa tidak dibenahi, maka akan jadi permasalahan baru di kota.  Membenahi desa termasuk menyelesaikan masalah yang ada di kota.

Halaman
123
Penulis: Haorrahman
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved