Berita Surabaya

Indonesia Jadi Tuan Rumah Kongres APAGE Ke 19, Bahas Soal Teknologi Operasi Minim Pembedahan

Sebanyak 759 peserta kongres berasal dari beberapa negara Asian Pasific dengan peserta terbanyak dari Filipina dan Taiwan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Kongres APAGE Ke 19, Bahas Soal Teknologi Operasi Minim Pembedahan
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
Para peserta menyaksikan contoh operasi laparoskopi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Indonesia, tepatnya di Kota Surabaya menjadi tuan rumah Kongres Asian Pacific Association of Gynecologic Endoscopy (APAGE) ke 19, Jumat (9/11/2018). Acara berlangsung selama tiga hari di Hotel Shangri-La, mulai 8 hingga 11 November 2018.

APAGE adalah salah satu kongres yang menjadi wadah bagi perkumpulan dokter ahli endoskopi ginekologi (kandungan) di seluruh Asia Pasifik, untuk saling tukar informasi dan pengalaman di bidang endoskopi ginekologi.

dr Relly, dr Wachyu, berjabat tangan dengan Presiden Apage 2018, Prof Masaaki Andou dari Jepang
dr Relly, dr Wachyu, berjabat tangan dengan Presiden Apage 2018, Prof Masaaki Andou dari Jepang (SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq)

dr. Relly Y. Primariawan., SpOG-KFER, Ketua Panitia Kongres tahunan ke 19 APAGE 2018 menjelaskan, Endoskopi Ginekologi adalah tindakan pembedahan invasif minimal atau menggunakan teropong ginekologi, tak seperti tindakan pembedahan biasanya yang konvensional (laparotomi).

Dua di antara tindakan endoskopi ginekologi adalah laparoskopi dan histeroskopi. Laparoskopi lanjut dr. Relly adalah memasukkan teropong atau teleskop ke dalam rongga perut untuk operasi penyakit kandungan. Sehingga tidak menimbulkan luka irisan yang besar di dinding perut seperti laparotomi, yang melakukan sayatan minimal 10 sampai 15 sentimeter.

Sementara Histeroskopi adalah memasukkan teropong atau teleskop ke dalam rongga rahimu untuk melihat dan mengambil kelainan di dalam rongga rahim.

"Dua tindakan endoskopi ginekologi ini akan memberikan masa penyembuhan lebih cepat. Resiko kemungkinan infeksi luka operasi juga kecil dan masa perawatan di rumah sakit juga lebih pendek dibandinh operasi konvensional," jelasnya, Jumat (9/11/2018) saat pembukaan acara.

Untuk itu lanjut dr Relly, teknologi ini sangat perlu diketahui dokter kandungan di Indonesia. Mengingat sebenarnya dokter Indonesia yang tertarik mengerjakan teknologi ini masih kurang.

"Jadi kira-kira jumlah 3000 dokter kandungan di Indonesia, yang baru mengerjakan atau berminat 20 persennya atau 600an dokter. Memang dibandingkan negara tetangga kita seperti Singapore dan Thailand, masih kurang. Dengan kegiatan ini di Indonesia kami berharap bisa memberi informasi dan memotivasi mereka untuk mengembangkan teknologi invasif minimal ini. Sehingga kita bisa bersaing dengan dokter asing, dan menjaring pasien Indonesia agar tidak perlu ke luar negeri," terangnya.

Sebanyak 759 peserta kongres berasal dari beberapa negara Asian Pasific dengan peserta terbanyak dari Filipina dan Taiwan. Selain itu hadir peserta dari luar Asia Pasific seperti Kenya.

Acara diisi oleh 90 pembicara asing, dan 93 pembicara lokal. 90 pembicara asing dari 21 Negara, didominasi Asia yaitu Taiwan, Thailand, Filipina, Hongkong, Malaysia, Singapore, India. Ada juga prmbicara Australia, Belgia, Kanada, Belanda, Swiss, Mesir, Spanyol, dan Jerman.

dr Relly mengatakan kegiatan ini sekaligus kegiatan yang bersamaan dengan Ikatan Genekologi Endoskopi seluruh Indonesia, atau Indonesian Gynecology Endoscopy Society (IGES).

Presiden IGES, Prof Wachyu Hadisaputra, MD. PhD dari RSC Jakarta, Indonesia menjadi presiden kongres APAGE 19 kali ini, sekaligus akan menjabat Presiden APAGE yang baru, periode 2018-2019.

Kongres terdiri dari dua kegiatan, pertama workshop untuk meningkatkan keterampilan dan simposium, serta live pembedahan dikerjakan di RS Dr Soetomo dan disambungkan internet kepada peserta di Shangri La Hotel.

"Melalui acara ini juga, kami berharap terus mendapatkan informasi teknologi dan cakrawala baru untuk dokter kandungan. Apalagi saat ini teknologi operasi di Taiwan bahkan sudah dilakukan oleh robot, di Indonesia masih ada satu Jakarta itu pun milik swasta. Kita sebagai negara yang komunikasi dengan negara lain juga harus terlibat aktif dalam penembangan teknologi ini, jangan sampai kita jadi follower saja," tutupnya.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved