Peringatan Hari Pahlawan

Pameran Tunggal Lukisan Yudi Muklas: Ada Pasar Pabean hingga Gerbang Ampel Tempo Dulu

Empat tahun melukis, 26 dari 30 karyanya yang menceritakan kembali kota Surabaya itu kini dipamerkan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda.

Pameran Tunggal Lukisan Yudi Muklas: Ada Pasar Pabean hingga Gerbang Ampel Tempo Dulu
surya.co.id/ahmad zaimul haq
Seorang pengunjung tengah menikmati lukisan Yudi Muklas di Galeri Balai Pemuda Surabaya, Rabu (7/11/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Foto-foto yang merekam kehidupan masa lalu Indonesia, di zaman kolonial tidak banyak jumlahnya.

Foto dengan gambaran kesibukan kota dan bangunan arsitektur yang khas kolonial bahkan sedikit demi sedikit mulai pudar, tak awet.

Dari sanalah keinginan menggambarkan ulang potret kota zaman dulu, timbul di benak seniman seni rupa, Yudi Muklas.

Niatnya itu semakin jelas, kala tahun 2002 silam berkesempatan melihat banyaknya bangunan tua di Kota Surabaya yang masih berdiri kokohnya.

"Saat itu usia saya 50 tahun, sedang ada janji temu teman di Surabaya. Sekalian bertemu, karena saat itu saya sedang melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Lombok untuk membuat film dokumenter," kata Yudi mulai bercerita, saat ditemui Surya.co.id di Galeri Pameran Surabaya, Balai Pemuda, Rabu (7/11/2018).

Yudi mengingat setiap kali perjalanannya ke Surabaya dia turun di stasiun Gubeng, stasiun Pasar Turi dan setiap perjalannya, pria lulusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyimpannya sebagai memori yang menyenangkan.

"Saya melihat keindahan Surabaya di tahun 2002, sampai beli peta dan mempelajari sejarahnya. Benar-benar jatuh cinta dengan arsitektur jaman dulu, 2008 saya mulai melukis dari foto-foto sejarah di web dan poscard yang sudah mulai usang. Semua lukisan tentang kota tua zaman kolonial di Surabaya," lanjutnya dengan tatapan sungguh-sungguh.

Empat tahun melukis, 26 dari 30 karyanya yang menceritakan kembali kota Surabaya itu kini dipamerkan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda. Empat lukisannya memang sudah laku terjual sebelum sempat dipamerkan.

Pria kelahiran Bandung, 25 September 1954 ini mengaku menghadirkan kembali potret kota Surabaya di zaman kolonial adalah keinginan untuk memuaskan batinnya dalam berkarya.

"Entah saat melihat karya foto kota zaman kolonial, saya menjadi terobsesi untuk pergi ke masa lalu, ingin rasanya saya melompat ke sana, ke masa itu. Saya melukisnya untuk mengekspresikan zaman dulu sangat indah, bukan hanya mengenang. Syukur-syukur kalau anak muda menyukai. Saya yakin mereka juga penasaran seperti saya," katanya yakin.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved