Pilpres 2019

Kebohongan Ratna Sarumpaet Hingga Tempe Setipis Kartu ATM Hambat Elektabilitas Prabowo-Sandi

Alvara Research Center menyebut bahwa kebohongan Ratna Sarumpaet dan isu tempe setipis kartu ATM bisa menghambat elektabilitas Prabowo-Sandi.

Kebohongan Ratna Sarumpaet Hingga Tempe Setipis Kartu ATM Hambat Elektabilitas Prabowo-Sandi
KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG
Ratna Sarumpaet saat dibawa ke Polda Metro Jaya, Kamis (4/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Isu ekonomi yang sering disampaikan oleh calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno terbukti belum berdampak positif terhadap elektabilitasnya. Salah satunya terlihat dari survei lembaga survei Alvara Research Center terbaru yang dirilis pada Selasa (6/11/2018).

Dari survei ini, dibandingkan survei sebelumnya, elektabilitas pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami penurunan. Sebaliknya, pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin mengalami kenaikan.

Pada survei kali ini, elektabilitas pasangan Prabowo - Sandiaga hanya sebesar 33,9 persen yang justru menurun 1,3 persen dibanding Agustus 2018 lalu. Sebaliknya, elektabilitas pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin naik 0,5 persen dibanding survei sebelumnya menjadi 54,1 persen.

Hasanuddin Ali, Founder and CEO Alvara Research Center menjelaskan bahwa salah satu faktor penurunan tersebut disebabkan karena banyaknya isu yang merugikan pasangan Prabowo-Sandi. Di antaranya, kasus hoax salah satu anggota mantan tim pemenangan Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet.

Hasanuddin menyebut Hoax dari Ratna Sarumpaet diketahui oleh hampir 60 persen masyarakat Indonesia. Yang mana, sebagian besar yang tahu kasus ini setuju bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan keutuhan bangsa.

Selain itu, sebanyak 66,6 persen Pemilih Jokowi-Ma’ruf menyatakan kubu Prabowo-Sandiaga bertanggung jawab atas kasus Ratna Sarumpaet. Sebaliknya hanya 31,5 persen pemilih Prabowo-Sandiga yang menyatakan kubu Prabowo-Sandiaga bertanggung jawab atas kasus Ratna Sarumpaet.

Baca: Mengaku Bohong, Ratna Sarumpaet: Itu Hanya Cerita Khayal, Entah Diberikan Oleh Setan Mana ke Saya

Survei ini menemukan sebanyak 18,9 persen pemilih menyatakan mengubah pilihan capres-cawapresnya akibat kasus hoax baru-baru ini. “Kasus Hoax Ratna Sarumpaet ternyata berdampak pada penurunan elektabilitas Prabowo-Sandiaga”, Ujar Hasanuddin kepada Surya.co.id (Tribunnews Network), ketika dihubungi dari Surabaya, Selasa (6/11/2018).

Hal ini yang diperparah dengan belum maksimalnya isu ekonomi yang sering disampaikan oleh Sandiaga Uno. Kritik yang disampaikan Sandi, menurut Hasanuddin, belum menjawab masalah yang sering ditemui di lapangan.

"Isu ekonomi tidak terlalu meningkatkan elektabilitas, sebab belum ada solusi konkret yang disampaikan. Belum sampai tawaran subtansial," katanya.

"Gestur tempe setipis kartu ATM hingga gaya Sandi menelepon Jokowi menggunakan tempe justru membuat elektabilitas Sandi belum bisa meningkat," katanya.

Menurut Hasanuddin, Sandiaga dan timnya seharusnya dapat lebih konkret dalam menyampaikan solusi-solusi yang lebih substantif. Misalnya, terkait masalah tenaga kerja.

"Lebih penting, memberikan solusi terhadap isu tenaga kerja. Isu ini juga menjadi perhatian bagi kalangan anak muda," katanya.

Baca: Atiqah Hasiholan Ungkap Kondisi Kejiwaan Ratna Sarumpaet, Setahun Berobat ke Psikiater

Di pemilu mendatang, isu ekonomi dan pemilih pemula menjadi dua diantara tiga masalah yang banyak disampaikan oleh masing-masing kandidat. Di luar dua isu tersebut masih ada satu isu utama yang belakangan juga kian marak yakni politik identitas.

"Isu populis agama belakangan mulai dihembuskan. Namun, hal itu sepertinya tidak terlalu berdampak kepada kedua pasangan calon," pungkasnya.

Alvara Research Center menggelar survei nasional pada 8-22 Oktober 2018. Riset ini menggunakan multi-stage random sampling dengan melakukan wawancara terhadap 1.781 responden yang berusia 17 tahun ke atas.

Sampel diambil di 33 Provinsi di Indonesia, dengan jumlah sampel tiap provinsi proporsional terhadap jumlah penduduk, Provinsi Sulawesi Tengah tidak diikutkan survei karena terkendala dampak gempa bumi di Palu dan sekitarnya. Rentang margin of error sebesar 2,37 persen persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved