Berita Kota Batu

5 Hari di Jepang, Dewanti ingin Sistem Pertanian di Fukushima Bisa Adopsi di Kota Batu

Selama lima hari Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko didampingi Kepala Dinas Pertanian mengunjungi Kota Fukushima, Jepang.

5 Hari di Jepang, Dewanti ingin Sistem Pertanian di Fukushima Bisa Adopsi di Kota Batu
foto: istimewa
 Wali Kota Batu Dewanti bersama tim Kota Batu saat berkunjung ke Pasar Grosir di Fukushima Jepang, beberapa hari lalu.  

Surya.co.id | BATU - Selama lima hari Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko didampingi Kepala Dinas Pertanian dan stafnya, mengunjungi Kota Fukushima, Jepang.

Di Negeri Sakura tersebut Dewanti banyak belajar tentang berbagai macam hal. Salah satunya  tentang pertanian.

Ia menyatakan pertanian di Fukushima sangat tertata dengan baik. Bahkan setiap petani mendapatkan pendampingan sampai masa panen.

Tidak hanya itu yang membuatnya kagum ialah semua petani di Fukushima mandiri.

"Dalam artian petani di sana siap menjual hasil panennya tidak melalui tengkulak, tetapi mandiri. Dan mereka benar-benar didampingi mulai dari masa tanam sampai masa panen," kata Dewanti, Senin (5/11/2018).

Tentu hal itu yang ingin ia terapkan di Kota Batu. Ia mengungkapkan kalau di Kota Batu ini masih banyak hal yang harus dibenahi terkait sistem pertanian.

Ia pun mengakui jika banyaknya tengkulak yang membuat pertanian di Kota Batu masih lemah.

Di Fukushima itu untuk pertanian memang difokuskan di sini. Dan terintegrasi dengan baik. Mulai teknologinya, manajemennya, ilmunya.

"Nah setelah belajar ini, tidak lama lagi kami akan seperti itu setelah mempelajari. Apalagi datarannya juga tidak jauh beda dengan Kota Batu," ungkapnya.

Sedang Kepala Dinas Pertanian, Sugeng Pramono menambahkan yang menonjol tentang pertanian di Jepang, selain sayur juga apel. Fukushima merupakan daerah sub tropis, hanya saja apel di sana diakui apel terbaik di dunia.

"Di sana itu pengelolaan tidak menggunakan tenaga manusia, semua menggunakan teknologi. Berbeda dengan di Batu. Bahkan di sana area pertanian itu berada satu blok khusus," kata Sugeng.

Menurutnya memang tidak jauh berbeda dengan di Kota Batu. Di mana sentra pertanian apel berada di Kecamatan Bumiaji, terutama di Desa Bumiaji, Desa Sumberbrantas, Desa Tulungrejo. Tidak hanya itu, Kota Batu juga memiliki 511 petani, sehingga bisa mewujudkan sistem pertanian yang terintegrasi.

Dengan begini, pihaknya memaksimalkan pertanian di Kota Batu, khususnya untuk apel. Mempertahankan luas lahan apel di Kota Batu, serta mengembangkan sistem penjualan.

"Karena di sana itu menggunakan penjualan online, sehingga dikenal dari seluruh masyarakat dunia. Kita bisa seperti itu, dengan mengembangkan sistem smart farmer," pungkasnya. 

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved