citizen reporter

Mencari Jejak Joko Tingkir di Lamongan

Jika menyebut Laskar Joko Tingkir sebagai julukan tim sepak bola Persela Lamongan, tentu ada sejarah hingga nama itu yang digunakan.

Mencari Jejak Joko Tingkir di Lamongan
dokumen pribadi

Cerita rakyat mengisahkan Joko Tingkir pernah singgah di salah satu desa di Kabupaten Lamongan, lebih tepatnya di Desa Pringgoboyo.

Sebenarnya banyak cerita yang berkembang tentang Joko Tingkir. Ada cerita yang menyatakan makam Joko Tingkir ada di Kompleks Pemakaman Butuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Ada juga cerita bahwa makam tersebut ada di Dusun Dukoh, Desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan, Jawa Timur.

Mana kisah yang paling benar?

Juru kunci makam Mbah Anggungboyo atau Joko Tingkir di Lamongan memberi informasi. Juru kunci itu bernama Muslik. Ia sering menghabiskan waktunya di gubuk kecil dekat makam itu.

Ia bercerita panjang, dulu seorang tokoh besar negeri ini pernah berkunjung ke makam itu. Tokoh itu diantar Kiai Midkhol, seorang kiai asli Lamongan dari Desa Pringgoboyo, pada 1996.

“Kiai Midkhol bahkan sempat mendatangkan sejarahwan dari luar negeri dan kerja sama dengan Bupati Lamongan kala itu untuk ngelacak kebenaran makam Joko Tingkir,” tuturnya.

Pada Februari 1999 Muslik langsung bertemu dengan tokoh besar itu di Cianjur. Ia sempat menanyakan keberadaan makam Joko Tingkir yang sebenarnya. Namun, tokoh itu enggan menjawab. Ia akhirnya meminta doa dan izin ke untuk membangun masjid di sebelah makam.

Pada 2006, desa tempat makam berada membuat pengurus baru untuk menjaga makam. Muslik tidak ikut andil. Namun, pada 2008,warga desa mengangkat kembali Muslik dan menjadikannya juru kunci makam itu. Rencananya akhir 2018, Bupati ingin makam Joko Tingkir dibuat untuk wisata religi.

Di sebelah makam terdapat pohon yang oleh warga sekitar disebut dandu dan pohon asam yang begitu besar kurang lebih memiliki tinggi 50 meter dengan diameter kurang lebih 2 meter.

“Pohon asam itu memiliki makna ‘a’ artinya tidak dan ‘sem’ artinya sempurna, jadi tidak ada orang yang sempurna. Begitu juga dengan pohon dandu yang memiliki makna ‘dan’ artinya kata sambung dan ‘du’ artinya duduk-duduk, jadi kita itu perlu duduk-duduk dan saling sharing untuk mencari ilmu,” imbuhnya.

Auliyau Rohman
Mahasiswa Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
auliyaurohman7@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved