Advertorial

Buka Wawasan Generasi Milenial dalam Menghadapi Politik Identitas

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St Lucas Surabaya mengadakan seminar untuk generasi milenial.

Buka Wawasan Generasi Milenial dalam Menghadapi Politik Identitas
surya.co.id/sulvi sofiana
SEMINAR - Romo Haryatmoko, pakar filsafat dalam Seminar Generasi Milenial Dalam Menghadapi Politik Identitas ini diadakan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Minggu (28/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menghadapi tahun politik yang rawan adanya perpecahan, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St Lucas Surabaya mengadakan seminar untuk generasi milenial agar mampu menghadapi keberagaman dalam tahun politik.

Seminar Generasi Milenial Dalam Menghadapi Politik Identitas ini diadakan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Minggu (28/10/2018).

Romo Haryatmoko, pakar filsafat hadir untuk menjelaskan kiat menjadi generasi milenial yang mampu menghadapi politik identitas.

Politik Identitas pada dasarnya adalah situasi dan cara berpolitik yang mempersatukan kelompok karena adanya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan yang didasari oleh persamaan latar belakang golongan, contohnya suku, ras, agama, dan jender.

"Aksi nyatanya bermainlah bersama, asal jangan diskusi teologi kitab suci. Karena pembahasan kitab suci atau diskusi teologi karena akan menjadi sumber perpecahan,"urainya.

Ia mengungkapkan orang Katolik cenderung suka kalau diajak bermain sehingga akan sangat mudah bergaul dengan umat lain. Dan kuncinya adalah komunikasi, yaitu kemampuan mendengarkan. Bergaul dengan umat lain seperti muslim menurutnya jangan sampai menjadi beban, harus menyenangkan.

"Saya S2 dan S3 di Paris banyak yang dekat, saat ketemu di Jakarta sering disindir kok masih jomblo saja. Kalau romo lain mungkin tersinggung. Tapi saya jawab bercanda lah gimana saya mau punya jodoh, jodoh di tangan tuhan masak saya rebut,"urainya.

Sementara itu, pegiat sosial media, Denny Siregar mengungkapkan generasi milenial harus berani keluar rumah, ke saudara, tetangga dan kelompok lain. Sehingga tidak akan terbentuk perasaan minoritas atau mayoritas.

"Yang penting pengupasan diri dulu, kalau itu sudah dilakukan para milenial saya yakin indonesia akan lebih aman ke depan,"ujarnya.

Ketua Pelaksana Seminar, Thomas More Suharto mengungkapkan seminar ini merupakan wujud implementasi semboyan PMKRI, yaitu Pro Ecclesia Et Patria, untuk gereja dan negara. Serta anjuran dari mantan Uskup Agung Semarang untuk menjadi 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia.

"Untik menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, maka harus berkarya di segala bidang. Termasuk berpolitik, politik itu suci dan sulit. Makanya kami mengadakan seminar ini untuk membuka wawasan pada peserta tentang identitas politik bagi generasi milenial, "ungkap alumnus PMKRI Surabaya ini.

Selain itu seminar ini merupakan rangkaian ulangtahun PMKRI Surabaya. Dan akan dilanjutkan dengan reuni, pembuatan buku 70 tahun PMKRI Surabaya dan bakti sosial.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved