Berita Sidoarjo

Kembalinya Kejayaan Industri Kecil Menengah di Tanggulangin

Sempat terpuruk cukup lama, IKM di Tanggulangin, Sidoarjo, kembali bangkit. Beginilah mereka bertahan hidup...

Kembalinya Kejayaan Industri Kecil Menengah di Tanggulangin
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Koperasi Intako yang berdiri sejak tahun 1976. Setelah terpuruk beberapa tahun, sentra kerajinan di Tanggulangin Sidoarjo ini kondisinya semakin membaik. 

Industri kerajinan kulit Tanggulangin tak pernah mati. Sempat tenggelam akibat peristiwa semburan Lumpur Sidoarjo dan serbuan barang impor dari Tiongkok, sentra kerajinan yang bermunculan sejak tahun 1975 itu tetap bertahan dan terus berjuang hingga berhasil bangkit kembali.

SURYA.co.id | SIDOARJO - Sukhaini Said terlihat sibuk menata tas kulit di sebuah rak yang berada di barisan paling depan showroom Koperasi Intako (Industri tas dan koper) di Desa Kedensari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Selasa (23/10/2018).

Tas pinggang, dompet, tas laptop, dan berbagai barang lain yang dipajang itu merupakan kerajinan kulit hasil karyanya bersama istri di rumah.

Semua produk kerajinan yang dia buat bersama istrinya itu, dititipkan ke koperasi Intako untuk dijual di sana dengan sistem konsinyasi.

Hasilnya lumayan. Setiap bulan dia biasa meraup uang sekitar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Belum lagi jika ada pesanan dan hasil berjualan via media sosial.

“Saya tidak punya toko sendiri, jadi jualannya hanya lewat koperasi dan online saja,” sebut pria 54 tahun tersebut.

Sukhaini menunjukkan tas hasil kerajinannya yang dipajang di Koperasi Intako.
Sukhaini menunjukkan tas hasil kerajinannya yang dipajang di Koperasi Intako. (surabaya.tribunnews.com/m taufik)

Bapak tiga anak asli kelahiran Desa Kedensari ini, sejak kecil memang sudah menjadi perajin tas kulit. Kemampuannya itu didapat dari sang ayah, almarhum Said, perajin tas yang juga salah satu pendiri Koperasi Intako.

“Bukan hanya saya, hampir semua warga di kawasan ini pekerjaannya adalah perajin. Pernah didata, jumlah perajin di sini mencapai sekitar 5.000 orang. Dan itu sudah turun-temurun sejak dulu,” kata dia.

Sentra-sentra kerajinan kulit di Tanggulangin bermunculan sejak kisaran tahun 1975. Karena kualitas produknya yang sangat bagus, tempat inipun menjadi jujugan warga yang membutuhkan tas, sepatu, koper, dan berbagai barang dari kulit.

Seiring berjalannya waktu, nama Tanggulangin terus menyebar seantero negeri ini. Pengunjung atau pembeli yang datang ke sentra Industri Kecil Menengah (IKM) di sana pun berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Bahkan, banyak juga turis dari berbagai negara yang belanja di Tanggulangin.

Halaman
1234
Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved